Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Part #20

Astaga, mampu berapa banyak lagi benih-benih kebohongan yang mampu mereka sembunyikan dariku?
            Aku terus mengintai sosoknya. Disudut sekolah sekalipun, tak lupa untuk kuhampiri. Dimana mereka? Aku tak menemukan batang hidungnya. Sebenarnya, aku hanya mencari Adam, bukan Farah. Namun, karana mereka kerap kali menghilang secara bersamaan, rasa curigaku muncul sangat besar. Sepeda motornya tidak ada di parkiran. Rasa curigaku semakin parah, bahkan entah mengapa airmata di kelopak mataku ini sudah tak sabar untuk keluar. “Hey, lihat Adam?” Aku bertanya pada Haidar, teman satu sekolah sekaligus tetangganya. “Hmmm… Enggak, Qhey.” “Mengapa kau begitu kaku? Aku ini kawanmu! Bersikaplah seperti biasanya.” Aku mulai memukul bahunya. “Hmm… Aku ke kelas dulu, Qhey.” “Hey! Haidarr…! Sial, aku ditinggalnya.”             Sudahlah. Aku sudah lelah bertanya kesana-kemari dimana letak Adam. Aku harus beristirahat. Aku akan melupakan kejadian yang kualami bersama Haidar. Sebenarnya, aku masih b…

Part #19

Mereka benar-benar acuh kepadaku. Apa yang kalian sembunyikan? Ya, akhir-akhir ini aku kerap kali melihat mereka berdua. Bahkan, melihat mereka menghilang bersama yang tak tahu dimana keberadaannya. Apa benar dugaanku selama ini, mereka saling menyimpan rasa? Sungguh! Ini tak adil. Farah tak pernah memperjuangkan Adam seperti aku memperjuangkan Adam. Aku jatuh bangun untuk kembali memilikinya seperti dulu kala. Aku akan mempertanyakannya pada Adam. semoga keputusanku ini tak salah. “Dam…” Aku menghampirinya kala ia sedang termenung seorang diri dibawah pohon rindang dekat kantin. Ya, seperti biasa ia hanya menaikkan alisnya. “Ada yang ingin kubicarakan.” “Apa?” “Bagaimana perasaanmu padaku sekarang?” Ah! Sial. Aku benar-benar bertanya kepadanya. Biarlah, aku tak ingin dalam ribuan harapannya dan terus mengemis kepadanya akan janjinya. Ah, semoga tak terjadi apa-apa. “Perasaan? Apa gunanya kau bertanya seperti ini?”             Ya, tuhan… Aku tak sanggup membendung airmataku jika ini y…

Part #18

“Ada apa denganmu ini? Kau terlihat cuek!” Aku memang tak pernah membiarkan wajahku dan perhatianku terlihat cuek padanya. Ya, meskipun sedemikian yang ia perbuat padaku. Jadi, wajar saja jika ia berontak tatkala menerima respon pahitku ini. “Tak inginkah kau membantuku dalam membuat resensi? Kau tahu betul, kan, kelemahanku?” “Iya, Dam.” Adam menebarkan semyum terimakasih padaku dan meninggalkanku sendiri. Jujur saja, mengapa kala kau membutuhkanku, kau datang padaku? Farah tak dapat membantumu? Ya, aku lebih paham kelemahanmu dibanding Farah. Bahkan, kelemahanmu mendatangiku hanya ketika kau membutuhkanku. Aku menerimamu apa adanya. Bahkan, dengan kelemahan-kelemahan yang kau miliki. Tapi, inikah yang kau lakukan? Kala aku sudah menerima dan menutupi segala kekuranganmu dimata banyak orang, kau pergi begitu saja dan datang bila kau butuh? Lagi-lagi aku menerimanya dengan jeritan tangis yang tenggelam dalam batinku. Kau tak akan tahu itu.             Jeritan itu semakin menjerit dala…

Part #17

Keadaan itu kembali muncul dan membuatku seolah-olah mejadi wanita cengeng dan telah dibodohi cinta.             Begitu juga dimalam hari, hanya perubahan dalam diri Adam yang selalu muncul dibenakku. Hingga mataku yang hendak terlelap, mulai enggan memejamkan mata untuk tertidur. Rasanya bagaikan tubuhku mati rasa karena banyaknya airmata yang nengalir. Butiran-butiran indah itu nyaris membasahi sarung bantal bergambar Barbieku ini. Dinginnya tetes airmata yang membekas disarung bantalku, membuatku perlahan dapat memejamkan mataku dengan tenang.                                                              ***             Mengapa kelas begitu sepi? Terlalu pagikah aku? Biasnya, ketika aku menginjakkan kakiku kedalam kelas, sosok yang begitu istimewa telah bersandar dibangku kesayangannya. Namun, kali ini bangkunya kosong. Tempat itu tak menjadi tempat istimewa lagi. Hanya ada kawan sebangkunya yang sedang membolak-balikkan buku tulis dan mengerjakan pekerjaan rumah yang belum sempat ia …

Part #16

Aku hanya menatapi jalan setapak yang ku iringi dengan hentakkan kecil dari kakiku. “Tidak. Tau apa kau tentangku?” “Hey, ada apa denganmu ini? Kau meninggikan nada kalimatmu. Kau pikir tundukkan kepalamu dapat membuatku bahagia?” Ia mendorong tubuhku yang lemas kala kami berjalan diatas aspal menuju sekolah.             Wanita bertas merah muda itu mendahului langkah kami. “Farah…” Suara itu ikuti dengan hentakkan kaki dengan suara yang berlarian. Ya, Adam berlari menghampiri Farah dan meninggalkanku yang sedari tadi menundukkan kepala. Ya, Tuhan, ingin rasanya aku menjerit. Detak jantungku seolah berhenti kala mereka bersanding dihadapanku yang kesekian kalinya. Tanganku gatal, ingin rasanya menarik dan mendorongnya jauh dari Adam. Aku tahu, lagi-lagi Tuhan masih memberiku kesabaran dan kesadaran. Aku bukan siapa-siapa Adam. itu bukan hakku, aku tak pantas melakukan itu. Aku hanya bisa diam dan bersabar menunggu surga indah yang kelak akan diberikan-Nya. Farah, mengertikah kau bagaim…

Part #15

Telah kukuatkan seluruh jiwa dan ragaku kala melihat mereka bersanding bersama disepanjang lantai Mall. Aku ada disana bahkan, disamping mereka. Adam tak seperti biasanya. Justru biasanya, ia mengkhawatirkanku tersenggol oleh lelaki lain. Tak ingatkah ketika hari-hari indah dan mengejutkan itu hadir dalam hidupku? Aku tak dapat menghapuskan memori itu dalam ingatanku. Kejadian itu masih tersimpan sangat pekat di otakku. Namun, saat ini? Aku selalu berusaha membuat lekukan indah dibibir mungil ku ini kala pecahan kaca itu menusukku. Aku sadar, aku tak pantas menyalahkan Farah. Tapi, sungguh. Aku tak dapat menyembunyikan kebencianku terhadapnya. Tak ingatkah bagaimana dukunganmu agar aku menjadi kekasih Adam? Isi hatiku yang selalu kucurahkan padamu? Mungkin aku egois jika aku membenci Farah. Namun kenyataannya? Seolah-olah semua ini permainan yang tak kukenali jenisnya. Baiklah, aku tak ingin melempar dadu. Semoga baik-baik saja.                                                          …

Part #14

Aku melihat Farah di Musholla. Sepertinya, aku mengenali rambut dan rompi itu. “Itu bukannya Adam?” Sontak aku mengedipkan mataku yang sempat tak berkedip. “Iya, itu Adam. Lihat, itu… Farah.” Jelas bukan hal yang mengagetkanku. Ini sudah tertebak. Sedari tadi, Adam meninggalkanku dan ia menapakki lantai Mall bersama temanku, Farah. “Qhey, aku mau siapin meja buat kita makan nanti, ya. Aku dan Nara duluan kesana ya. Restaurant Ramen, ya.” Farah dan Nara menawarkan kami. “Baiklah, nanti berikan aku kabar.” Farah dan Nara bergegas pergi untuk membooking meja. Jujur, sebenarnya aku sedikit kesal dengan Farah. Entah apa yang ada dipikirannya. Dia mengetahui perjuanganku untuk Adam. Tapi… Aku belum mendapat kalimat yang tepat untuknya. Rasanya banyak sekali tetes air mata yang kusembunyikan. Baiklah, aku menyandarkan tubuhku dibangku restaurant. Kami semua sudah berkumpul bersama. Tunggu, dimana Adam? Kali ini Adam tak menghilang bersama Farah. Justru, ia menghilang bersama kawan terbaiknya…

Part #13

Adam memintaku untuk mengajarkannya. Aku melihatnya sedari tadi guru kami menerangkan, ia malah bergurau dengan sahabat barunya. Aji. Bahkan, tanpa rasa dosanya, ia tetap saja bergurau disetiap goresan angka yang ia goreskan di bukunya. ‘ “Lihat, Qhey! Wajahmu tampak seperti ini… Hahaha…” “Dam, apa maumu?” Ia menggambar sebuah wajah, lalu ia membandingkannya denganku. Makhluk ini benar-benar menyebalkan. Jika aku tak menyukaimu, sudah kubunuh kau. Untungnya itu semua terkalahkan dengan perasaanku.             Karena sekolah kami menerapkan system pindah kelas disetiap pelajarannya atau sering disebut dengan Moving Class, kami kerap kali berkeliaran disekitar sekolah. Tapi, aku melihat pemandangan yang berbeda. Dibangku pinggir lapangan ada Farah dengan teman-temannya dan wanita junior kawat gigi yang tak kukenal namanya. Adam memilih duduk bersanding dengan Farah? Aku dan Meli membiarkan tubuh kami melintas dihadapan mereka. Kudengar gelak tawa dari mereka. Saat kami melintas, Adam sam…

Part #12

Baiklah, aku belum menemukannya untuk kali ini. Biarkan ia berkeliling-keliling sekolah. Kali ini pandanganku akan kufokuskan pada daftar nama dan kelas di mading. Aku memilih IPS sebagai jurusanku. Bukan karena aku bodoh dipelajaran IPA. Tapi, karena aku memang tertarik dengan semua pelajaran dijurusan IPS. Betapa bahagianya aku, aku kembali dipertemukan dengan Meli. Ia adalah kawanku di kelas awal ketika kami junior. Aku tak begitu akrab dengannya. Tapi setidaknya, ia mengetahui hubunganku dengan Adam dan ia akan mendengarkan curhatanku tentang Adam. “Mel, kita sekelas. Duduk bersamaku?” Aku memberanikan diri untuk memberikan penawaran. “Ide yang bagus. Semoga menyenangkan…” Aku rasa Meli menyetujui penawaranku. Kau akan menjadi pelabuhan isi hatiku, Mel. Tak perlu khawatir. Aku dan Adam, baik-baik saja. Bagaimana aku tak kaget, Meli menunjuk lelaki di kelas baru kami. Adam satu kelas denganku. Kebahagiaanku semakin bertambah. Aku akan lebih dekat dengan Adam. Lebih baik teman rasa …

Part #11

“Sepi, nih.” Aku mendapat sebuah pesan singkat dari Adam. Lagi-lagi aku harus menjenguknya. Aku tak ingin menkajak siapapun. Jarang-jarang aku menikmati moment seperti ini.             Kali ini, aku memasuki pintu rumah sakit dengan membawa makanan kesukaanya. Sebelum menuju ke rumah sakit, aku menyempatkan diri memasak untuknya. Aku meracik bumbu demi bumbu untuk makanan kesukaan Adam. Sayur Asam dengan taburan ikan teri kecil goreng diatasnya. Untung saja, hari ini adalah hari libur. Sehingga mudah bagiku untuk menghidangkan makanan kesukaanya. Kusajikan makanan ini disebuah piring. Ia menyuapkan sendok demi sendok ke bibirnya. Hingga tiba saatnya, ia melakukan hal konyol. Ia melayangkan sendok itu kearah bibirku. “Hey! Mana bisa seseorang yang sedang sakit menyuapi orang yang sehat. Tapi, kau sudah besar aku tak perlu melakukannya untukmmu.” Aku tertawa geli kala itu. Jelas saja ku dorong sendok itu kembali ke mulutnya. Lahap sekali ia memakannya. “Entah bagaimana dengan rasanya. A…

Part #10

Setelah suster cantik itu pergi meninggalkan kami, aku menyendokkan sedikit demi sedikit porsi untuk Adam. Kala itu, Adam tersenyum tanpa henti. Mungkin, karena perkataan yang dilontarkan suster cantik tadi. Awalnya, ia enggan memakan makanannya. Menunya ikan, Adam tak menyukai ikan. “Sakit aja masih bisa pilih-pilih makanan. Ga boleh begitu. Cepat makan.” Ku biarkan suara itu menggema dalam ruangannya dan mulai menyodorkan piring berisi sepaket lauk itu. Ia tak lekas menyuapkan sendok demi sendok ke mulutnya. “Apa?” Wajahnya memelas dan matanya menatapku. Aku mengerti maksudnya. “Sudahlah, Dam. Sudah besar, haruskah aku yang menyuapimu?” Dengan terpaksa ia memasukkan nasi kedalam mulutnya. Tetap saja, tanpa ikan. Biarkanlah, asalkan perutnya terisi, dapat sedikit membuatku lega. “Aku sudah kenyang, Qhey.” Adam mulai mengeluh dan mengaduk-aduk isi piringnya. “Yasudah, jangan dipaksa. Minum obatnya.” Aku rasa, porsi untuk orang yang sedang sakit itu sudah lumayan banyak. Aku…

Part #9

Hari ini sekolah kami masuk seperti biasa. Setelah kemarin diliburkan, aku dan Adam tak berangkat bersama. Aku tak sabar ingin melihat wajahya. Sudah lama rasanya aku tak melihatnya. Padahal, baru semalam menjelang tidurku aku memandangi gambarnya di ponselku. Sepasang mataku selalu mengarah kepadanya. Aku tak tahu, pelet apa yang telah dipasangnya. Aku merasa, bak magnet bertemu magnet. Ada tarikkan yang selalu mengarah untuknya. Namun, kemana lelaki magnet itu? Tak terlihat sedikit pun batang hidungnya. “Mana Adam?” Kali ini aku memfokuskan pandanganku kepada teman terbaikku, Faqih. “Adam? Kurang tau, Qhey. Aku gak lihat dari tadi.” Magnet itu semakin kencang. Tarikkan itu membuatku tak dapat menahannya. Kemana Adam? Aku merindukanmu.             Hari-hariku kali ini sangat sepi. Layaknya semut yang kehilangan rombongannya. Baiklah, aku akan memberanikan diri untuk menanyakan kabarnya melalui pesan singkat. Lama sekali ia membalasnya. Kemana makhluk ini? Ah, aku muak menunggunya,. Ia…

Part #8

Dengan cepat aku menyadarkan diriku dari lamunan itu dan memasuki istana kecil Adam. Aku sempat berpikir, wajarkah jika aku masuk kedalam rumah Adam? Adam pikir itu hal yang wajar, aku pun berpikir begitu juga. Selagi kami tak hanya berdua dan melakukan hal yang bodoh. Faktanya pun, kami tak akan melakukan hal bodoh. Saat aku memasuki pintu rumahnya, aku disambut dengan sebuah lukisan bercatatan kaki, ‘Adam’. Apa? Bagaimana bisa Adam melukis sebagus ini? Tapi memang benar adanya, ini adalah lukisan Adam. “Itu lukisan terburukku. Mamah yang memasangnya disini. Sebernarnya di pasang tanpa persetujuanku.” Ia menepuk pundakku selama aku memandangi lukisan indah itu. Lukisan itu benar-benar indah. Lukisan itu beralaskan kanvas. Sebuah lukisan pemandangan. Aku tak tahu apa maksud lukisan itu, tapi kurasa lukisan ini memiliki arti. “Itu ada maknanya lho.” Apa yang sedang ku pikirkan ia menjawabnya. “Ohya? Bagaimana bisa disebut lukisan terburuk? Wow, apa itu?”  “Lihat bagian ini,…