Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Part #23

Hingga matahari kembali menyinari pagiku, pesan terakhirku pun tak juga dibalas oleh Adam. Aku tertidur menunggu pesan Adam yang nyatanya memang benar-benar tak dibalasnya. Diponselku pun masih terbuka ruang pesan Adam. Biasanya, Adam tak pernah absen menyapa pagiku. Ya, semenjak Farah hadir memang semuanya berubah. Bahkan, pesanku semalam pun tak dijawabnya, padahal ia sedang online. Lalu, apa yang dia lakukan?             Hari ini memang tak seperti biasanya. Saat aku keluar kamar dan hendak beranjak ke meja makan untuk sarapan. Aku melihat Adam yang sudah duduk di ruang tamu dengan pakaian yang sangat rapi. Entah, ia datang dari mana dan bagaimana bisa Bundaku membiarkan makhluk ini masuk tanpa meminta izin padaku. Memang Bunda tahu banyak tentang aku dan Adam, namun Bunda tidak akan pernah tahu masalah apa yang sedang kuhadapi bersama Adam saat ini. “Ha? Adam, kenapa ada disini?” Tanyaku dengan mata yang melotot. “Menjemputmu, bodoh.” Jawab Adam sembari menjitak kepalak…

Part #22

Gambar
Aku meninggalan Mella bukan tanpa alasan. Aku terlanjur kesal padanya. Ia memang sangat mengerti bagaimana aku selama ini, namun kadang kala ia tidak pernah tahu bagaimana sulitnya masalah ini dan betapa harusnya aku selesaikan. Sejak ku tinggalkan Mella, ia benar-benar tidak berbicara lagi padaku sepatah dua patah kata. Aku paham betul maksudnya, namun aku tak suka dengan sikapnya yang seolah-olah salah untuk mencari kebenaran. “Qhey, aku minta maaf.” Pinta Mella saat aku sedang duduk didepan kelas seorang diri. “Mel, maaf. Aku paham betul maksudmu, namun aku hanya ingin kamu tau bahwa aku sudah lelah, aku ingin menyudahi semuanya, Mell. Tapi, aku tak tau harus mengakhirinya dari mana. Apa mungkin dengan tiba-tiba aku menjauh dari Adam? Aku lelah, Mel.” Air mataku benar-benar tak tertahan lagi, aku benar-benar menangis di pundak Mella tanpa kusadari sedari tadi Adam memperhatikanku dari jauh ditengahhembusan angin sore yang sepi siswa. ***           Diam. Tak ada satu kata pun yang kel…

Part #21

“Iya, Qhey... Kemarin, aku melihat Adam bersama seorang wanita, tapi aku tak tahu siapa dia.” Lanjut Zalfa. “Siapa wanita itu ya, Zal? Apa kau benar-benar tidak tahu siapa dia?” “Sudahlah, Qhey. Hiraukan saja, jangan pikirkan. Mungkin aku salah lihat. Mari masuk kedalam kelas.” Aku dan Zalfa menuju ke kelas dan kami berpisah. Adam. Satu-satunya orang yang ada dalam pandanganku hanya dia. Saat aku memasuki kelasku, mataku hanya mengincar sosok Adam. Dia sudah duduk dikursi kesaangannya. “Hai, Dam...” Aku menyapanya dan mencoba bersikap seperti biasa. “.....” Adam hanya membalas dengan tatapan sinis. “Kenapa, sih? Apa yang salah dengan kita, Dam?” Airmataku sudah menumpuk dalam kelopak mataku. “Kita? Apa maksudmu?” “Apa kamu lupa dengan apa yang kamu dan aku lakukan selama ini? Apa itu hanya permainanmu saja?” “Kamu ini bicara apa, Qhey? Apa menurutmu, semua yang kita lakukan itu sangat berarti?” Adam berbicara dengan guyonan. “Ada-ada aja, sih.” “Aku tak tahu apa yang ada dipikiranmu. Apa…