Mengenai Saya

Foto saya
Please... Jadilah pembaca yang, cerdas, pintar dan berbudi pekerti. Terimakasih pengertiannya, Gais :) Semua yang saya tulis belum tentu saya dan semua yang kamu baca belum tentu itu kamu.

Rabu, 25 November 2015

Omong-Omong...

Hai.. ketemu lagi setelah beberapa lamanya gue gak post tulisan apapun. Kambek.. kambekk!!! Yeay.. seneng gak? Ahaha lupakan ya, gais.. kali ini gue mau ngepost sepatah dua patah paragraf. Ko baru kambek, thor? Kemana aje, thor? Cerbung ga dilanjutin, thor? Stop!!! Gue baru ada waktu lagi buat nulis tulisan yang apalah-apalah. Cerbung, ya? Hmm.. gue belum ada ide lagi, nih.. tetep doain aja deh ya demi kelancaran semuanya. Cerita dimulaaii...


Kali ini gue mau sharing cerita gue perjuangan ke dunia perkuliahan yang seperti ini. Seperti ini yang belum ada apa-apanya, loh ya. Mau nyapa buat teman-teman yang tahun ini bakal melewati Ujian Nasional, khususnya teman-teman SMA semua, ya. Apa kabar? Sudah sampai manakah persiapan teman-teman? Siap UN? Siap terima hasil SNMPTN? Siap SBMPTN? Atau Ujian Mandiri? Nah, teman-teman harus persiapkan, ya.
R: Thor, mana pengalamannya?
A: Sabar, neng, tong, ini lagi ditulis.
(Lupakan ujian nasional dulu, ya)
R: Thor, gimana snmptn?
Teman-teman semua, SNMPTN itu kan berdasarkan rapot. Tentunya, ini akan dipengaruhi oleh usaha teman-teman dari semester 1-6. Teman-teman tinggal koreksi nilai saja, antara kesesuaian nilai di komputer dengan di rapot asli. Disini teman-teman bisa memilih universitas dan jurusan sesuai dengan ketentuan yang sudah dibuat.
R: Apa ketentuannya, Thor?
A: Nanti dibimbing sama guru masing-masing, neng, tong.
R: Pengalaman lu apa, thor?
Nah, pas SNMPTN gue bener-bener yakin sama pilihan gue. Yakin seyakin-yakinnya. Kenapa?? Secara, nilai rapot gue ya menunjukkan peningkatan tiap semester (bukannya sombong, yhaa). Tapi, gue ga yakin dengan jurusan yang gue pilih. Menurut gue itu jurusan yang gue pilih banyak peminatnya. Bhaakk!!
R: Yee!! Gimana si lu, thor.
A: Namanya juga pengalaman, neng, tong.
Saran gue buat neng, tong semua yang mau snmptn, pilih jurusan yang sesuai dengan jurusan temen-temen di SMA. Kenapa? Karena, snmptn itu penyeleksian melalui nilai rapot. Jadi, ya seleksinya disesuaikan dengan perkembangan nilai teman-teman. Pilih sesuai minat dan bakat ya. Trik juga diperlukan. Karena, ini untung-untungan hehe.. untuk trik, mungkin bisa konsultasi sama guru masing-masing, ya.
R: Hasil SNMPTN lu gimana, thor?
Oke, sabar neng dan tong semua. Gue sudah serahkan semua pada Allah. Ya... Pada akhirnya gue sakit hati. Gue gagal. Gue bener-bener ga percaya. Iya sih, kepedean juga, ya gue. Ya mau gimana lagi? Rencana Allah udah terbaik kan ini. Saking ga percaya dirinya gue di PTN, gue langsung daftar diri gue ke swasta. Hemmm..
R: Habis gagal,apa yang lu lakuin, thor?
A: Ga kuliah, tong.
Ya enggaklah, gue langsung daftarin diri ke PTS, cepet banget ya. Haha.. tadinya gue gamau coba SBMPTN (jalur masuk PTN yang ke-2). Saking ga percaya dirinya gue masuk dan daftar di PTN. Tapi, karena orang tua gue masih berharap gue dapet PTN, gue akan berusaha demi mereka. Gue masih les buat tes SBMPTN. Di tempat les gue, kita diukur kemampuannya untuk mengerjakan soal SBMPTN. Tiap hari senin dikasih soal sbmptn. Pada akhir minggunya, dipasang ukuran pencapaian kita di mading. Tentunya dengan universitas dan jurusan yang cocok untuk kita.
Semua universitas dan jurusan yang gue pilih, nilai gue sudah tercapai. Gue bisa masuk ke universitas tersebut. Sampai pada akhirnya, gue mengikuti dan berusaha menumbuhkan percaya diri lagi untuk tes sbmptn. Disini perjuangan gue dimulai.
Perjuangan gue melibatkan orang tua gue, ayah. Gue dapet lokasi ujian di Tanah Abang. Untungnya, lokasinya ga begitu jauh sama lokasi kantor ayah gue. Ya, gue survei ditemenin beliau dan tesnya pun ditemenin beliau sambil hujan-hujanan. Orang tua mana yang ga menanam harapan anaknya bakal berhasil masuk PTN denga usaha besarnya? Itu yang orang tua gue rasain. Setelah kegagalan SNMPTN, mereka menaruh banyak harapan pada tes ini. Gue pun begitu. Pada nyatanya? Gue gagal yang kedua kalinya. Ini lebih sakit di banding yang pertama. Kok bisa? Perjuangan gue banyak disini sampai melibatkan dua orang lebih. Tapi apa? Semua kecewa dengan hasilnya, termasuk gue. Sakit, neng, tong...
R: Thor, udah jangan sedih..
A: Enggak kok, tong. Tenang aja.
R: Terus akhirnya lo di swasta pilihan lo itu dong?
Nah, gue udah pasrah. Gue menyerah. Setiap ada yang tanya dimana gue melajutkan kuliah, gue selalu jawab di pts tadi. Sebenernya, gue iri sama temen-temen gue yang berhasil di ptn. Tapi gimana? Gue ga dapet.
Gue nyerah? Eggak. Orang tua gue masih berharap di salah satu ptn di Jakarta. Gue udah ga percaya diri, sih. Tapi, inget apa yang lo rasain ketika orang tua lo menyimpan harapan besar sama diri lo? Apa iya gue ga memperjuangkan itu? Gue terus berusaha untuk ptn tersebut. Iya, itu satu-satunya pegangan gue untuk di ptn.
Gue mempertahankan jurusan impian gue IAI (Ilmu Agama Islam). Untuk jurusan kedua, gue memainkan trik. Gue harus keluar dari zona aman. Gue tetep pilih pendidikan, tapi gue gak pae lagi jurusan yang gagal kemarin (trauma). Gue cari yang jarang. Pilihan gue tertuju pada PGPAUD (Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usian Dini). Gue bener-bener udah gak peduli akan keterima atau enggak. Keterima syukur, enggak yaaa geus lah.. Lelah daku ditolak terus.
Mana tau, Allah punya kehendak lain ternyata. Setelah gue gagal dua kali, Allah kasih kesempatan gue untuk bisa duduk di bangku ptn. Jurusan PGPAUD.
R: Yah.. PGPAUD
R: itu jurusan ma gausah kuliah juga bisa.
R: yeuh, tanggung amat, thor. Malah PGPAUD.
A: woy, berisik lo! Tau susahnya gak?! Masuk aja syukur. Senggaknya gue udah bisa beridiri diantara seribu orang lebih. Rasain deh lo nanti.
R: maap, thor..
Kesimpulannya apa? Temen-temen semua, Allah itu sudah mengatur segalanya. Tinggal bagaimana teman-teman semua berusaha. Ga ada takdir Allah yang jelek, semua pasti ada baiknya. Semua yang gue lakuin demi orang tua gue, akhirnya bisa gue capai. Biarin orang bilang apa tentang hidup lo, tapi inget, mereka gatau siapa dan bagaimana kalian dalam menghadapi kerasnya hidup. Semua butuh pengorbanan. Bergeraklah untuk sesuatu yang lebih baik. Hasil? Belakangan. Usaha dulu baru hasil toh? Pikirkan dulu usahanya, masalah hasil, belakangan. Allah sudah rencanakan. Pokoknya, apapun yang terjadi pasti ada hikmahnya. Bersyukurlah teman-teman semua. Btw, sampe sekarang kalau bicara perjuangan masuk ptn, gue sedih di bagian gagal sbmptn.
R: Thor, udah, thor. Jangan sedih.
A: Makasih neng, tong..
Tapi inget, neng, tong semua. Bukan dimana lo kuliah, tapi gimana lo menjunjung ilmu yang lo dapat (Beliau). 
Perjuangin apa yang menurut lo perlu dan patut diusahain. Selamat berjuang teman-teman semua. Semoga berhasil, ya...
Tiada berhasil usaha tanpa doa. Begitu juga sebaliknya.


Beliau...
Terimakasih sudah bantu saya dari nol. Dari saya baru tahu, mencoba, dan berhasil.
Maaf sudah mengganggu waktu istirahat anda.
Maaf atas kerepotan yang saya berikan pada anda.
Terimakasih
Atas bimbingan anda, saya mampu melewati semua.
Saya mampu berada dimana anda berada.
Saya mendapatkan apa yang saya usahakan.
Cepatlah lulus, wisudalah, dan mengabdilah pada mereka yang membutuhkan.
Doaku menyertaimu.
Terimakasih... 

-Seseorang Yang Slelalu Merepotkanmu-




Mohon maaf atas beberapa konten yang kurang jelas dan kurang dipahami. Untuk yeng kurang dipahami dan memungkinkan dipertanyakan kepada guru, silakan di klarifikasi. Semoga dapat membantu teman semua. Kontak, Twitter @IntaanUtami, Facebook Meilia Intan Utami. Terimakasih.

Jumat, 05 Juni 2015

See You Again

Beberapa tahun lalu Tuhan mempertemukan kami. Aku tak mengenalnya. Aku hanya hafal dengan wajahnya. Organisasi yang mempertemukan kita. Aku mengenalnya melalui sahabatku. Ia juga mengenalnya karena organisasi itu. Namun, aku tak tahu sejak kapan mereka saling kenal. Bahkan, mereka sering meluangkan waktu untuk bermain bersama. Temanku memberi tahu padaku, bahwa ia seseorang yang asik jika diajak bicara. Jinki namanya. Wajahnya putih dan ia sangat pintar. Namun, ia bukan dari kalangan sekolahku, ia anak luar.
Kala itu, Jinki menghubungiku melalui media sosial. Ia meminta nomor ponselku. Jujur saja, aku bukan tipe orang yang sembarangan memberikan nomor ponsel. Aku bergegas bertanya pada kawanku yang mengenal Jinki lebih dalam. Kawanku menjawab bahwa ia orang baik-baik. Aku pun menanyakan kepada Jinki untuk apa ia meminta nomor ponselku. Akhirnya, aku memberikan nomor ponselku untuk alasan organisasi yang kami ikuti. Memang pada saat itu organisasi kami sedang bermasalah, sehingga kami harus saling membantu. Melalui ponsel itu, banyak percakapan diantara kami.
Perbedaan sekolah tidak menghalangi kami untuk berpapasan wajah. Kami masih dalam satu kawasan. Ketika pertama aku melihatnya dan menyapanya ia hanya memperhatikanku dengan tatapan sinis. Entahlah, memang wataknya atau ada hal lain. Setelah kejadian itu, aku langsung bertanya padanya, mengapa gerangan ia memandangiku sinis. Aku baru sadar, ia tak mengenal wajahku.
Singkat saja, melalui media sosial ini kita semakin dekat. Lebih dari mengenal dan menghafal wajah. Bahkan, aku tahu perjalanan cintanya. Aku tahu siapa kekasihnya. Aku tahu bagaimana dia. Dia pun begitu, tahu apa yang terjadi pada diriku. Ia yang selalu menjadi buku diaryku kala aku tak tahu harus kemana ku tuliskan. Ibarat ada pelangi setelah hujan. Jika aku bersedih, ia yang memberikan warna warni, agar kesedihan itu hilang. Perkenalan kita memang tak begitu lama. Hanya dua tahun lamanya. Hingga kami lulus SMA, kami masih berteman dengan baik.
Aku mendengar kabar, bahwa ia akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi diluar kota. Tak tahu akan kembali kapan. Entah sebulan sekali, entah dua bulan sekali, entah setahun sekali. Aku tak tahu. Yang aku tahu, mungkin kami akan bertemu empat tahun lagi. Memang tak banyak waktu yang kami habiskan bersama. Kami hanya bermodalkan media sosial dan senyuman jika berpapasan. Tak pernah kami bercerita dalam waktu yang lama dan bertatap muka.
Setelah aku mendengar kabar ia akan pergi ke luar kota untuk sekolah. Aku mengajaknya untuk main bersama. Kami bercerita banyak disana. Ia menceritakan kekasihnya. Ia menceritakan pengalamannya. Begitu juga denganku. Segala yang kuragukan kuceritakan padanya. Bahkan, cerita-cerita yang masih menggantung. Kebanyakkan, cerita kami tersimpan di kotak masuk ponsel. Sehingga, jika kami bertemu kami harus menuntaskan cerita itu. Bercerita tentang banyak hal. Ddaann... Kalian tahu??
“Tanggal sebelas aku sudah pergi ke luar kota.”
Secepat inikah? Lalu, siapa yang menjadi pelangiku? Lalu, bagaimana aku bercerita? Lalu, bagaimana kau menakutiku? Lalu, siapa yang memanggilku dengan nama yang jelek? Aku tahu masih banyak yang bisa melakukan hal yang sama sepertimu, untukku. Tapi... Ah!!! Ingatlah, perkenalan kita yang singkat dapat membuat kita menjaga pertemanan kita. Apapun yang terjadi nanti aku akan menjadi temanmu dan kau tetap jadi temanku.
Ternyata, kemarin adalah hari pertama dan terahir kami bearmain sebelum ia pergi untuk cita-citanya. Lakukan hal yang sama saat empat tahun kemudian, bahkan lakukan itu setiap hari layaknya berdekatan. Aku yakin, Tuhan telah menyiapkan pelangi itu untukku saat kau tak ada. Dan aku yakin, Tuhan membiarkanmu agar tetap menjadi pelangiku selamanya.
See You Again...


-Namja Chingu & Yeoja Chingu-

Sabtu, 25 April 2015

Jangan Ajari Aku Cinta

This is about love. Just read! Michiko story..
Keasingan hidupku tentang cinta, membuat aku merasa tidak nyaman berada diantara atom-atom cinta itu. Asing. Benar-benar asing. Cerita orang akan indahnya cinta sering ku dengar. Bercerita tentang berbagi kasih bersama. Bercerita tentang dia yang dicintai. Bercerita tentang kenikmatan. Padahal itu hanya sesaat. Aku tau rasanya. “bohong! Kamu kan ga pernah berada diantara cinta!”. Iya, itu kalimat yang benar. Aku tidak pernah berada diantara mereka. Tapi, aku tau rasanya. Melayang-layang dimabuk cinta. Ya, aku setuju.
Kehidupan yang tenang bersama orang-orang tersayang. Tak ada yang mengganggu. Begitu nikmat saat-saat bersama keluarga. Tertawa bahagia tanpa ada beban diantara kami. Namun, semua itu terasa sangat asing. Ketika, seseorang menghampiri hidupku. Ajakannya akan berbagi kasih sayang dan janji yang diungkapkannya membuatku terpana dan melayani tawarannya. Awal pertama ku jalani jembatan cinta itu sangat indah. Penuh gurau. Penuh manja. Penuh janji. Disinilah aku tak mngerti arti ‘Janji’ sesungguhnya. Yang aku pelajari, janji adalah hal yang harus dipenuhi. Dengan alasan apapun, janji itu hutang dan hutang harus dibayar.
Begitu banyak kalimat manis yang ku dengar lalu ku resapi dalam hati. Indah. Aku benar-benar tak berdaya akan keindahan kalimat yang kudengar. Aku lupa dengan sekitar. Hanya ada aku dan dia. Manis bukan? Aku benar-benar menikmati saat-saat itu. Dengan senyum dibibir, aku lewati hari-hariku dengannya. Memang masih asing, tapi aku memaksa diriku untuk terbiasa dengan keadaan ini. Aku di perdayakan oleh keadaan.
Tiada satupun yang mengganggu kami. Nikmatnya hanya kami berdua yang merasa. Bahkan, perasaan asing itu sudah tak berarti dan tak terasa dalam diriku. Sempat terpikir letak negatif itu. Sempat terpikir yang negatif itu akan terjadi. Layaknya naskah yang dibuat sutradara. Itu semua terjadi. Apa yang terpikirkan olehku terjadi tepat saat kami merasa diawan bebas. Jika begini akhirnya, aku tidak akan pernah diajarkan cinta oleh siapapun.
                                                             ***
Ibarat anak kecil yang sedang tertimpa musibah Tsunami. Betapa traumanya anak kecil itu akan kejadian yang ia alami. Bukannya tak ingin bangkit. Namun, memang trauma itu masih menyelimuti anak kecil itu. Ketika melihat air dengan ombak besarnya, ketakutan dan kepanikan itu melandanya. Begitupun aku. Setelah dikenalkan dengan keadaan yang diawali dengan manisnya dan diakhiri dengan pahitnya, enggan rasanya kembali pada keadaan itu. Bukan aku tak ingin bangkit. Bukan aku tak ingin bersandar dibahu yang lain. Tapi, aku takut. Takut akan terjadi hal yang sama. Bukan juga aku menyamakan bahwa semua orang itu sama sifatnya. Tapi, aku masih belum berani untuk melakukan hal yang dulu pernah ku lakukan. Tak ingin jatuh dikeadaan yang sama. Bukannya aku masih ingat masalalu. Tapi, pahitnya masih terasa. Aku tak ingin menambah pahitnya lebih banyak dan lebih dalam. Biarkan aku yang memutuskan. Ini keputusanku. Hingga saat ini, pahit yang dahulu ku rasakan memang benar masih terasa jelas adanya. Memang hingga saat ini, itulah yang aku rasakan. Bahkan, keasingan itu kembali hadir padaku.
Beginilah hidupku yang tenang. Tanpa ada orang yang lain. Hanya ada tawaku, keluargaku, dan temanku. Detik ini, aku masih tidak ingin diajarkan cinta oleh siapapun. Pahamlah, bahwa aku memang masih berada dalam masalalu yang kelam dan aku sedang menikmati hidupku saat ini.


-Michiko