Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2014

Part #11

“Sepi, nih.” Aku mendapat sebuah pesan singkat dari Adam. Lagi-lagi aku harus menjenguknya. Aku tak ingin menkajak siapapun. Jarang-jarang aku menikmati moment seperti ini.             Kali ini, aku memasuki pintu rumah sakit dengan membawa makanan kesukaanya. Sebelum menuju ke rumah sakit, aku menyempatkan diri memasak untuknya. Aku meracik bumbu demi bumbu untuk makanan kesukaan Adam. Sayur Asam dengan taburan ikan teri kecil goreng diatasnya. Untung saja, hari ini adalah hari libur. Sehingga mudah bagiku untuk menghidangkan makanan kesukaanya. Kusajikan makanan ini disebuah piring. Ia menyuapkan sendok demi sendok ke bibirnya. Hingga tiba saatnya, ia melakukan hal konyol. Ia melayangkan sendok itu kearah bibirku. “Hey! Mana bisa seseorang yang sedang sakit menyuapi orang yang sehat. Tapi, kau sudah besar aku tak perlu melakukannya untukmmu.” Aku tertawa geli kala itu. Jelas saja ku dorong sendok itu kembali ke mulutnya. Lahap sekali ia memakannya. “Entah bagaimana dengan rasanya. A…

Part #10

Setelah suster cantik itu pergi meninggalkan kami, aku menyendokkan sedikit demi sedikit porsi untuk Adam. Kala itu, Adam tersenyum tanpa henti. Mungkin, karena perkataan yang dilontarkan suster cantik tadi. Awalnya, ia enggan memakan makanannya. Menunya ikan, Adam tak menyukai ikan. “Sakit aja masih bisa pilih-pilih makanan. Ga boleh begitu. Cepat makan.” Ku biarkan suara itu menggema dalam ruangannya dan mulai menyodorkan piring berisi sepaket lauk itu. Ia tak lekas menyuapkan sendok demi sendok ke mulutnya. “Apa?” Wajahnya memelas dan matanya menatapku. Aku mengerti maksudnya. “Sudahlah, Dam. Sudah besar, haruskah aku yang menyuapimu?” Dengan terpaksa ia memasukkan nasi kedalam mulutnya. Tetap saja, tanpa ikan. Biarkanlah, asalkan perutnya terisi, dapat sedikit membuatku lega. “Aku sudah kenyang, Qhey.” Adam mulai mengeluh dan mengaduk-aduk isi piringnya. “Yasudah, jangan dipaksa. Minum obatnya.” Aku rasa, porsi untuk orang yang sedang sakit itu sudah lumayan banyak. Aku…

Part #9

Hari ini sekolah kami masuk seperti biasa. Setelah kemarin diliburkan, aku dan Adam tak berangkat bersama. Aku tak sabar ingin melihat wajahya. Sudah lama rasanya aku tak melihatnya. Padahal, baru semalam menjelang tidurku aku memandangi gambarnya di ponselku. Sepasang mataku selalu mengarah kepadanya. Aku tak tahu, pelet apa yang telah dipasangnya. Aku merasa, bak magnet bertemu magnet. Ada tarikkan yang selalu mengarah untuknya. Namun, kemana lelaki magnet itu? Tak terlihat sedikit pun batang hidungnya. “Mana Adam?” Kali ini aku memfokuskan pandanganku kepada teman terbaikku, Faqih. “Adam? Kurang tau, Qhey. Aku gak lihat dari tadi.” Magnet itu semakin kencang. Tarikkan itu membuatku tak dapat menahannya. Kemana Adam? Aku merindukanmu.             Hari-hariku kali ini sangat sepi. Layaknya semut yang kehilangan rombongannya. Baiklah, aku akan memberanikan diri untuk menanyakan kabarnya melalui pesan singkat. Lama sekali ia membalasnya. Kemana makhluk ini? Ah, aku muak menunggunya,. Ia…

Part #8

Dengan cepat aku menyadarkan diriku dari lamunan itu dan memasuki istana kecil Adam. Aku sempat berpikir, wajarkah jika aku masuk kedalam rumah Adam? Adam pikir itu hal yang wajar, aku pun berpikir begitu juga. Selagi kami tak hanya berdua dan melakukan hal yang bodoh. Faktanya pun, kami tak akan melakukan hal bodoh. Saat aku memasuki pintu rumahnya, aku disambut dengan sebuah lukisan bercatatan kaki, ‘Adam’. Apa? Bagaimana bisa Adam melukis sebagus ini? Tapi memang benar adanya, ini adalah lukisan Adam. “Itu lukisan terburukku. Mamah yang memasangnya disini. Sebernarnya di pasang tanpa persetujuanku.” Ia menepuk pundakku selama aku memandangi lukisan indah itu. Lukisan itu benar-benar indah. Lukisan itu beralaskan kanvas. Sebuah lukisan pemandangan. Aku tak tahu apa maksud lukisan itu, tapi kurasa lukisan ini memiliki arti. “Itu ada maknanya lho.” Apa yang sedang ku pikirkan ia menjawabnya. “Ohya? Bagaimana bisa disebut lukisan terburuk? Wow, apa itu?”  “Lihat bagian ini,…

Part #7

Kembali lagi ia menarikku kedalam bus. Sore itu, kami menghabiskan waktu bersama. Hanya aku dan Adam. Betapa aku merasakan bahagia yang teramat dalam kala itu. Entah dengannya. Aku pun berharap seperti itu.             Kejadian sore itu tak dapat membuatku memejamkan mata untuk beristirahat malam. Aku hanya dapat memandangi sebuah buku pemberian Adam. Karena ia tahu bahwa aku sangat senang membaca, ia memberikan ku sebuah novel berjudul ‘Daun yang Jatuh, Tak Pernah Membenci Anginnya’. Aku sempat membaca synopsis buku ini, sangat menarik perhatianku beberapa bulan silam. Buku ini sudah terbit beberapa bulan yang lalu, tapi aku memang tak sempat membelinya. Hanya ada angan-angan saja. Beruntunglah, aku mendapatkannya dengan gratis. Restaurant unik itu menyimpan banyak kenangan. Meskipun toko itu belum lama buka, tapi aku sudah memiliki banyak kenangan dengan Adamku. Apa? Adamku? Semoga saja.                                                               ***             Hari ini murid-muri…

Part #6

Defibrillator itu semakin kencang, ketika Adam memberikan sebuah pernyataan pada Zalfa, bahwa ia kagum denganku. Apa yang membuatnya kagum padaku?             Waktu menunjukkan tepat pukul lima sore. Tapi, langit sudah begitu gelapnya. Perlahan rintik hujan mulai membasahi tanah bagian atas. Aku lupa membawa payung, pelapis tubuh pun aku lupa. Aku harus melawan tetesan hujan yang semakin deeras dan dinginnya cuaca kala itu. Jika tidak, aku tak akan sampai kerumah. Ketika aku sedang mengambil ancang-ancang untuk melawan derasnya hujan di ujung koridor sekolah, terasa gelap di atas kepalaku. Saat ku memberanikan mengangkat kepalaku ke atas, pelapis tubuh berwarna abu-abu itu menutupi sebagian kepalaku. Adam. Ya, ini jaket Adam. Ia hanya tersenyum ketika aku merasa kebingungan.             Adam membiarkanku menaiki bus lebih dulu, karena hujan benar-benar semakin deras. Saat itu, bus yang kami tumpangi sedang penuh dengan penumpang. Kami tak dapat duduk tenang seperti biasanya. Jika kami…

Part #5

Kami berpisah saat kendaraan mulai tersebar dari antreannya. Aku lebih dulu turun. Tak sepatah kata pun terlontar dari mulut kami. Adam terbangun saat aku sendang meraba kantung bajuku untuk mengambil ongkos. Tampan sekali. Rambutnya terlihat sedikit berantakan. Adam mengusap matanya dan kembali acuh. Apa Adam lupa ia telah meminjam pundakku selama antrean panjang kendaraan? Ia tak lupa. Ia melontarkan senyuman saat aku sudah di bawah bus. Kali ini ia sangat hangat, tidak seperti disekolah. Adam yang dingin.             Cuaca mala mini sangat dingin. Dingin hingga menusuk tulang. Sebuah short message dilayar ponselku. Adam. “Selamat malam, Qhey. Makasih ya tadi pundaknya.” Adam mengucapkan terimakasih? Jarang sekali seorang Adam mengucapkan terimakasih. Tanpa kusadari, mimic wajahku berubah seketika. Bibirku membuat lengkungan senyuman. Berbalas short message dengan Adam membuatku lelah dan terlelap malam itu.                                                               ***            …

Part #4

Apa? Adam meninggalkanku setelah kami menyebrang bersama. Mengapa dia begitu berbeda? Ah, aku mengerti. Mungkin ia tak ingin kami terlalu berlebihan ketika sampai dikawasan sekolah. Ah, bisa jadi juga karena Adam tadi memang tak sengaja memegang lenganku .               Aku benar-benar tertinggal oleh langkahnya. Saat ku memasuki gerbang sekolah, Adam sudah bergabung dengan teman-temannya. Ia tak sehangat kemarin. Ia kembali lagi menjadi Adam yang dingin dan misterius. Bahkan, saat aku berjalan di hadapannya, tak ada bahasa tubuh itu lagi. Tak ada mata kami yang biasanya sangat kalang kabut saat saling bertemu. Baiklah, kejadian itu hanya sebuah kebetulan. Entah apa maksudnya. Aku akan menganggap ini tak pernah terjadi dan aku akan segera menghapuskannya dari ingatanku.             Mata kami kembali bertemu dikantin. Aku sedang bersama Faqih disana. Aku dan Faqih duduk bersebelahan di kursi panjang, dan Adam? Ia menghampiriku dan menyuruh Faqih menggeser badannya, duduklah Adam di samp…

Part #3

“Oh iya, Qhey. Aku lupa. Ada satu hal lagi yang belum ku ceritakan ke kamu.” “Hah? Apaan, Qih? “Adam itu suka gambar, Qhey. Gambarnya bagus-bagus, deh. Aku pernah liat bukunya. Dari depan sampai belakang itu gambar dia semua.” Aku mulai tak mengerti maksud Faqih. Apakah ini ada hubungannya dengan seniman misterius itu? “Oh ya? Lalu? Apa menurutmu seniman misterius yang aku maksud adalah…” Belum sempat aku menjawab, Faqih menyambar jawabanku. “Adam.”                                                                         ***             Terkejut dan kagum. Hanya itu yang dapat ku ungkapkan saat mendengar cerita Faqih tentang Adam. Anime. Gambar yang smepurna. Seniman misterius. Itulah Adam. kekagumanku semakin melonjak setelah aku mengetahui seni di antara kami. Aku dan Adam. Seniman misterius itu, ada di sekitarku selama ini. aku baru paham. Project yang diberikan kepada Adam dari pimpinan OSIS adalah gambar di mading.             Entah ada apa dengan kami. Kami selalu bertemu. Kali ini…

Post #2

***             Sinar pagi ini membuat mataku menyipit. Ah, aku lupa, aku pikir ini adalah hari sekolah dan aku telat bangun pagi. Ternyata saat ku melirikkan mataku ke arah kalender, hari ini adalah hari Minggu. Ingin rasanya ku rebahkan kembali tubuhku yang manja ini di atas kasur. Astaga! Aku lupa. Aku memiliki janji dengan lelaki misterius, Adam. Aku tak ingin mengecewakannya. Dia tak pernah merasakan quality time denganku. Faqih lebih sering merasakannya. Ya jelas saja, aku dan Faqih sudah lama berteman. Bukan hal yang langka jika aku sering bercengkrama dengannya. Adam? Tentu saja lebih sering bersama Zalfa.             Dimana Adam? Dia memutuskan pukul delapan kami berjanjian. Nyatanya? Ia tak kunjung datang. Hhh… Aku lelah. Sangat lelah. Apakah ia seperti siput? Atau dirantainya kakinya itu? Lama sekali. Hampir lima gelas Coffee Non Cafein ku tegak. Lamanya ia datang membuatku bosan berada di Kafe, hampir setengah jam. Ingi…