Mengenai Saya

Foto saya
Please... Jadilah pembaca yang, cerdas, pintar dan berbudi pekerti. Terimakasih pengertiannya, Gais :) Semua yang saya tulis belum tentu saya dan semua yang kamu baca belum tentu itu kamu.

Sabtu, 10 Mei 2014

Part #19

                Mereka benar-benar acuh kepadaku. Apa yang kalian sembunyikan? Ya, akhir-akhir ini aku kerap kali melihat mereka berdua. Bahkan, melihat mereka menghilang bersama yang tak tahu dimana keberadaannya. Apa benar dugaanku selama ini, mereka saling menyimpan rasa? Sungguh! Ini tak adil. Farah tak pernah memperjuangkan Adam seperti aku memperjuangkan Adam. Aku jatuh bangun untuk kembali memilikinya seperti dulu kala. Aku akan mempertanyakannya pada Adam. semoga keputusanku ini tak salah.
“Dam…” Aku menghampirinya kala ia sedang termenung seorang diri dibawah pohon rindang dekat kantin. Ya, seperti biasa ia hanya menaikkan alisnya. “Ada yang ingin kubicarakan.”
“Apa?”
“Bagaimana perasaanmu padaku sekarang?” Ah! Sial. Aku benar-benar bertanya kepadanya. Biarlah, aku tak ingin dalam ribuan harapannya dan terus mengemis kepadanya akan janjinya. Ah, semoga tak terjadi apa-apa.
“Perasaan? Apa gunanya kau bertanya seperti ini?”
            Ya, tuhan… Aku tak sanggup membendung airmataku jika ini yang terjadi.
“Aku butuh, Dam. Jika seperti ini sikapmu, aku butuh perasaanmu.”
“Tak ingatkah kau saat di rumah sakit? Kepastian bukalah hal penting bagimu, dan aku.”
“Bukankan tak perlu menjadi yang special untuk melakukan hal yang special? Tapi, kau tak lagi melakukan hal yang special itu padaku, Dam.”
                                                             ***
            Langkah kakiku menuju sekolah benar-benar tanpa semangat sedikitpun. Adam yang dulu sangat berbeda dengan yang sekarang. Aku merindukan masa-masa itu. Jika boleh aku kembali, aku ingin kembali ke masa-masa itu. Masa dimana Adam masih menganggapku special dan melakukan hal yang special besama denganku. Astaga, aku teringat percakapan kemarin sore. Aku merasa bersalah telah menanyakan hal itu kepadanya. Memang dulu, aku tak membutuhkan kepastian. Itu semua karena aku masih berpikir Adam akan menepati janjinya dan terus bersikap manis padaku. Jika aku mengingat masalalu, sungguh indah sekali tanpa sebuah kepastian. Semenjak Farah hadir dalam kebahagiaanku dan Adam, semuanya berantakkan dan kepastian itu semakin penting bagiku. Mengapa? Ya, dengan alasan aku tahu, mereka sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
            Aku kembali bertanya-tanya pada keadaan. Apa salah, jika aku masih terus yakin dengan janjinya yang sampai saat ini bagaikan kabut? Apa salah jika aku menganggapnya nyata, sedangkan ia hanya menganggapku angin berlalu? Mengapa salah? Aku hanya ingin memperjuangkan cintaku untuknya. Aku hanya ingin suatu saat manuai apa yang sudah kutabur. Aku hanya ingin tetap bertahan untuknya walau ia tak membiarkanku bertahan untuknya. Biarkan aku bertanya kembali pada keadaan. Mengapa perasaan ini tetap ada, bahkan semakin besar, tatkala ia benar-benar tak ingin aku ada dalam hidupnya? Perasaan adalah fitrah, aku tak dapat menyembunyikannya. Lalu, apa salah jika aku menyuruh Farah untuk menjauh dari Adam? Ya! Itu yang dapat dikategorikan kesalahan besar. Aku tak ingin menyakiti hati Farah.
            Ah, cukup. Pertanyaanku pada keadaan membuatku gila. Takkan ada artinya. Ada apa dengan orang-orang? Mereka terlihat begitu antusias. Aku pikir ada hal menarik yang terpampang di mading. Entah mengapa, saat aku berjalan menuju kelas untuk meletakkan ranselku, beberapa orang terlihat menunjukku dan memperlihatkan ekspresi simpati kepadaku. Ada apa? Aku tak terlihat menderita. Berbeda dengan orang-orang di kelasku, mereka terlihat seperti tutup mulut. Matanya juga memberikanku rasa simpati. Hey, ada apa?! Biarlah aku akan mencari tahu sendiri. Tunggu! Sedari tadi, Adam dan Farah sedang menggambar bersama. Farah! Kau sudah merasakannya! Aku yang lebih dulu dan lebih ;ama mengenal Adam, belum pernah mewujudkan cita-citaku untuk menggambar bersama. Masih ingatkah saat aku melihat gambar yang terpasang di mading kala aku pertama mengenalnya? Bukankah aku ingin menggambar berasamanya? Kenapa Farah?
            Tatapan simpati mereka kepadaku semakin terasa. Bahkan, tatkala aku berjalan menuju lapangan basket. Astaga, aku benar –benar tak mengerti apa yang terjadi pada mereka, juga padaku. Apa ada yang salah dengan penampilanku? Mereka membenciku atau menyukaiku? Dimana Adam? Dimana Farah? Lagi-lagi mereka menghilang bersama. Mampu berapa banyak yang mereka sembunyikan dariku? Aku tak sebodoh yang mereka kira. Aku terus mengintai sosoknya. Aku tanyakan kepada beberapa kawannya dan juga kawan Farah. Mereka semua tak melihat batang hidung mereka.