Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Part #1

“Hey, Qheyla. Ada apa?” Zalfa membalas sapaanku. Tapi, kenapa tiba-tiba wajah Adam menjadi bete? Menjadi kusut. Apa mereka sedang membicarakan masalah? Atau, karena aku? Karena aku mengganggu perbincangan mereka. “Zalfa, maaf ya sudah ganggu.” Aku segera berlari meninggalkan mereka. Ini hal konyol. Ada apa dengan ku? Tiba-tiba lari. Ya, ada sisi perasaanku yang tidak ingin mengacaukan perbicangan mereka.                                                                         ***             Istirahat jam pertama setelah pelajaran Matematika yang membuatku frustasi. Aku memang tak begitu suka pelajaran semacam ini. Tidak seperti  istirahat biasanya, kali ini aku sendirian. Aku hanya duduk di pinggir lapangan. Biasanya aku dan Faqih bersatu. Aku dan Faqih sangat dekat sampai-sampai, kami di tegaskan untuk berjauhan dan menjaraki pertemanan oleh salah seorang guru kami. “Qhey! Kenapa tadi pergi begitu aja?” Zalfa mendatangiku dan mengisi bangku yang kosong di sebelahku. “Ah, enggak, Fa. T…

# S A L A H

Semua ini berawal ketika aku memasuki masa Sekolah Menengah Atas. Aku yang mudah berbaur dengan teman baruku dan aku yang selalu percaya diri dengan apa yang aku miliki. Semua perasaanku mulai muncul di sebuah tempat menunggu kendaraan umum yang tidak begitu jauh dari sekolahku berada. Lelaki itu, berambut jatuh yang tak panjang dan tak pendek pula. Dengan tas berwarna hitam yang hanya di gendong di bahu sisi kanannya saja. Wajahnya tampak cuek. Tapi, ia berhasil membuatku terperanga melihatnya. Wajahnya pun tampak misterus. Aku pernah melihatnya di sekolah.                                                                 ***             Ketika itu, aku sedang menunggu kawan lamaku, Rafa. Ia sengaja mendatangiku untuk bercengkrama bersama. Kafaza. Aku menunggunya di Kafaza. Kafaza adalah tempat pemberhentian kendaraan umum, yang tak lain dan tak bukan adalah Halte. Saat aku menunggu Rafa, aku melihat sesosok lelaki bertubuh tinggi, dengan celana abu-abu yang tak menggantung. S…

Ketika Merpati Putih Datang Kembali (part3)

Gambar
Hitam, jangan kau pikir aku tak tau bagaimana perasaanmu. Aku mengerti, sangat mengerti. Begitu juga dengan perasaanmu, Putih. Tapi, apa maksudmu? Suara pada satu hari itu membuatku tercengang akan kedatanganmu kembali dengan penyesalan. Kala itu, kau memberikan pernyataan penyesalan padaku. Aku meresponnya dengan baik. Aku pikir kau benar-benar menyesal. Tapi? Aku sudah tau faktanya, Putih. Aku tidak lagi bodoh. Kau datang pada waktu itu menceritakan semuanya. Semua tentang Hitam. Bahkan, kau menyesali telah pergi dari ku dan datang pada Hitam. Apa maksumu?? Kau pikir aku apa? Robot? Sandal? Atau apa? Sebutkan apa yang mau lakukan padaku. Lakukanlah! Apa yang bisa ku balas? Apa aku akan membalasmu? Sulit untuk membalas dan sakit rasanya bila membalasnya. Tapi, kau tidak pernah menyadarinya.                                                                         ***             Untukmu hitam. Aku tak bermaksud merusak hubunganmu dengan ayahmu. Tapi, kau telah mengambil hakku. Memang, Pu…

Ketika Merpati Putih Datang Kembali (part2)

Gambar
Aku tak tau, apakah ini benar-benar skenariomu ataukah bukan. Kau tau? Jika itu memang benar, apa kau tau apa yang kurasa? Suara-suara mu satu hari itu di rumahku, aku percaya. Aku menyambutmu dengan positif. Itu semua hilang. Aku merasakan banyak gejolak. Apa kau tau apa yang ku rasakan?             Aku tau, kau hanyalah Merpati Putih. Apa kau mengerti? Ya, aku baik-baik saja. Di detiap hariku, aku selalu tertawa bahagia, tersenyum dengan lebar tanpa beban. Tapi, tidakkah kamu berpikir perbuatan mu? Tidakkah kau berpikir, bagaimana perasaanku? Ya, aku terlalu berlebihan. Berdirilah kau di posisiku. Di jebak dalam sebuah sarang yang kau pikir itu mengasyikkan. Apa yang kau rasakan? Mempositifkan yang memang sebenarnya adalah permainan. Kau dan ayahmu sangatlah licik. Aku tak tau ini ulahmu, ayahmu, atau ulah kalian berdua. Tapi tak sadarkah kau?! Aku sedang menjadi permainan mu. Aku bagaikan kawanmu yang sedang kau ajak bermain. Kawan. Aku masih menyebutmu kawan, Putih. Tapi, aku tak …

Ketika Merpati Putih Datang Kembali (part1)

Gambar
Taukah kau merpati putih? Ketika aku melepaskanmu, aku merasa bahagia karena kau bebas dengan bahagia pula. Tapi, sadarkah kau? Ketika kau merasa bahagia, kebahagiaanku juga tumbuh secara pura-pura. Apa kau tau? Aku menyimpan banyak duka? Bukan karena melepaskan dan kehilanganmu. Tapi, orang disekitarmu membuat ku tertekan. Aku paham pula perasaanmu. Dan taukah kamu? Ketika kamu kembali datang, aku merasa sakit. Aku tau kau membawa surat bahagia. Tapi, sakit.. semua imajinasiku keluar, sakit dan sakit. Tertusuk kukumu yang tak sengaja menyentuh jariku. Apa kau tau itu?             Satu hari, aku merasakan suara mu, Merpati Putih. Kau datang!! Aku tak bahagia, tak sedih pula. Tapi, entah mengapa, aku selalu berpikir ini adalah skenariomu. Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk berpikir positif atas kedatanganmu kembali ke rumahku. Aku menanggapimu dengan baik. Aku selalu berusaha berpikir kau merpati putih yang baik. Ya, kami baik-baik saja layaknya dulu kau hewan milikku d…