Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Sentuhan Terakhirku

Namaku Kanaya Faradhisa. Orang memanggilku Kanaya, Naya, Nay, atau Kay. Kata mereka, aku seseorang yang ceria, ceroboh, asik, ya pokoknya 'gak ada Naya, gak rame'. Tak jarang kawanku bertanya 'Nay, lo gak punya beban hidup apa? Enteng banget.'’ Bukan aku tak punya beban, tapi ntah kenapa aku hanya ingin menebarkan energi positif pada orang disekitarku. Aku hanya ingin jadi perempuan yang selalu ceria dimata mereka. Aku ingin menjadi berkesan ceria dimata mereka. Aku rasa, aku memang tidak suka air mata. 
Selalu saja mereka menamaiku dengan ‘Naya yang buta cinta.’ Iya, buta cinta bukan cinta buta. 'Nay, lo gak pernah nangis deh. Sekalinya nangis, nangisin tugas. Itu juga kaya kilat.' 'Lo gak pernah jatuh cinta apa, Nay.' ‘Naya mah, gak ngerti cinta-cintaan. Polos.’ ‘Nay, gak pernah galau, ya? Sejujurnya, merekalah alasanku untuk tak membawa cinta didepan mereka. Mereka bilang, aku tidak memanfaatkan masa mudaku. Tidak menikmati rasanya mencintai. Tidak merasak…

Aku Pamit...

Melamun. Menangis. Tertawa. Melamun. Menangis. Itu sudah menjadi tradisiku ketika aku dihadapkan dengan yang katanya masalah cinta. Bukan aku menangisi orangnya, tapi apa yang sudah terjadi. Masih terlihat jelas awal pertemuan aku dan Akbar. Sikapnya memang berubah-ubah. Kadang manis, kadang pahit. Tapi, kalau ini akhirnya aku memilih Akbar yang bersikap pahit. Biar saja aku tidak bisa memiliki senyumnya apalagi membuatnya tersenyum, yang penting aku masih bisa menikmati senyumnya dalam waktu yang lama.           Saat ini? Benar memang, sesuatu yang bersinar pasti akan redup juga. Hampir hari-hariku diisi oleh Akbar. Dulu. Sekarang, aku seorang diri. Tidak ada yang mengajak makan siang, mengantar pulang, apalagi yang selalu mengucapkan ‘selamat malam Naya cantik’. Loh, Nay? Memang sebelum Akbar datang bagaimana? Tidak ada yang mengajak makan pun aku masih bisa hidup. Ini semua hanya tentang waktu. “Naya! Apa kabar?” Dan... Itu Akbar, setelah berbulan-bulan pergi tanpa meninggalkan pesa…

Antara Perasaan & Penyesalan

Gambar
Nay, tadi lo kasih gue pilihan, kan? Mau lepasin lo atau tetep bersama lo meskipun pait akhirnya kan? Gue pilih yang kedua, Nay. Kalau perasaan dan resiko lo jadi urusan lo, biarin gue merasakan hal yang sama.” ***           Kalimat terakhir malam itu, saat aku dan Akbar bertemu masih terbayang-bayang dibenakku. Aku tak pernah tahu, bagaimana yang akan terjadi selanjutnya setelah malam itu. Benarkah Akbar mampu bertahan? Aku juga tak pernah tau tentang keputusanku malam ini. Akankah ini menjadi bumerang bagi kehidupanku setelah ini?
“Dorr!! Kanaya!” “Kenapa ya, Bar ngagetin terus!” Keluhku sambil memukul punggungnya yang bidang. “Udah lama nunggunya? Maaf ya, ngaret tadi Pak Musadinya.” “Hmmm... Lama gak ya...” “Temenin sampe kelar tugas gue, ya. Abis ini kita makan diluar.” “Siap, Bar.” “Oh iya, Nay. Gue punya sesuatu deng buat lo.” “Apa tuh, Bar. Ulang tahun kita kan masih jauh.” “Ciee... Kita. Seneng masa lo bilang kita.” “Ya, lagian lahirnya ngikut-ngikut, sih.” ***           Belum saatnya har…

Hai Mei...

Gambar
Hai Mei, Begitu banyak kisah terjadi di bulan ini. Padahal Mei baru memulai harinya. Belum lagi, kisah kita tentang hari dan tanggal yang spesial bagi hidup kita. Apakah kita masih bersama hingga hari itu? Atau justru kita mengalah pada keadaan di tengah hari-hari itu? Hai Mei, Mungkin sudah puluhan kali kita bertemu. Kali ini berbeda. Apa mungkin kau sedang menabur warna baru? Lalu kisah apa lagi yang kau siapkan dipertemuan kami yang selanjutnya?
*** “Nay, apa kabar?”           Hari ini kami bertemu, setelah lama sudah kami tidak saling berkabar. Bagaimana Akbar sekarang? Sudahkah dia... Halah sudahlah. Siapa aku peduli tentangnya. “Bar, baik. Lo gimana? Lama banget ga ketemu.” “Baik juga nih. Lo kok disini?” “Iya, gue tadi habis ke perpustakaan terus duduk bentar disini. “Sendiri? Sekarang jadi anak perpus banget ya, Nay. Ahahaaa...” “Ahahahaha... Engga juga sih, Bar. Tapi, emang kayaknya harus sering-sering ke perpus mulai dari searang. Lo pasti habis baca komik ya?” “Udah enggak, Nay. K…