Mengenai Saya

Foto saya
Please... Jadilah pembaca yang, cerdas, pintar dan berbudi pekerti. Terimakasih pengertiannya, Gais :) Semua yang saya tulis belum tentu saya dan semua yang kamu baca belum tentu itu kamu.

Sabtu, 25 April 2015

Jangan Ajari Aku Cinta

This is about love. Just read! Michiko story..
Keasingan hidupku tentang cinta, membuat aku merasa tidak nyaman berada diantara atom-atom cinta itu. Asing. Benar-benar asing. Cerita orang akan indahnya cinta sering ku dengar. Bercerita tentang berbagi kasih bersama. Bercerita tentang dia yang dicintai. Bercerita tentang kenikmatan. Padahal itu hanya sesaat. Aku tau rasanya. “bohong! Kamu kan ga pernah berada diantara cinta!”. Iya, itu kalimat yang benar. Aku tidak pernah berada diantara mereka. Tapi, aku tau rasanya. Melayang-layang dimabuk cinta. Ya, aku setuju.
Kehidupan yang tenang bersama orang-orang tersayang. Tak ada yang mengganggu. Begitu nikmat saat-saat bersama keluarga. Tertawa bahagia tanpa ada beban diantara kami. Namun, semua itu terasa sangat asing. Ketika, seseorang menghampiri hidupku. Ajakannya akan berbagi kasih sayang dan janji yang diungkapkannya membuatku terpana dan melayani tawarannya. Awal pertama ku jalani jembatan cinta itu sangat indah. Penuh gurau. Penuh manja. Penuh janji. Disinilah aku tak mngerti arti ‘Janji’ sesungguhnya. Yang aku pelajari, janji adalah hal yang harus dipenuhi. Dengan alasan apapun, janji itu hutang dan hutang harus dibayar.
Begitu banyak kalimat manis yang ku dengar lalu ku resapi dalam hati. Indah. Aku benar-benar tak berdaya akan keindahan kalimat yang kudengar. Aku lupa dengan sekitar. Hanya ada aku dan dia. Manis bukan? Aku benar-benar menikmati saat-saat itu. Dengan senyum dibibir, aku lewati hari-hariku dengannya. Memang masih asing, tapi aku memaksa diriku untuk terbiasa dengan keadaan ini. Aku di perdayakan oleh keadaan.
Tiada satupun yang mengganggu kami. Nikmatnya hanya kami berdua yang merasa. Bahkan, perasaan asing itu sudah tak berarti dan tak terasa dalam diriku. Sempat terpikir letak negatif itu. Sempat terpikir yang negatif itu akan terjadi. Layaknya naskah yang dibuat sutradara. Itu semua terjadi. Apa yang terpikirkan olehku terjadi tepat saat kami merasa diawan bebas. Jika begini akhirnya, aku tidak akan pernah diajarkan cinta oleh siapapun.
                                                             ***
Ibarat anak kecil yang sedang tertimpa musibah Tsunami. Betapa traumanya anak kecil itu akan kejadian yang ia alami. Bukannya tak ingin bangkit. Namun, memang trauma itu masih menyelimuti anak kecil itu. Ketika melihat air dengan ombak besarnya, ketakutan dan kepanikan itu melandanya. Begitupun aku. Setelah dikenalkan dengan keadaan yang diawali dengan manisnya dan diakhiri dengan pahitnya, enggan rasanya kembali pada keadaan itu. Bukan aku tak ingin bangkit. Bukan aku tak ingin bersandar dibahu yang lain. Tapi, aku takut. Takut akan terjadi hal yang sama. Bukan juga aku menyamakan bahwa semua orang itu sama sifatnya. Tapi, aku masih belum berani untuk melakukan hal yang dulu pernah ku lakukan. Tak ingin jatuh dikeadaan yang sama. Bukannya aku masih ingat masalalu. Tapi, pahitnya masih terasa. Aku tak ingin menambah pahitnya lebih banyak dan lebih dalam. Biarkan aku yang memutuskan. Ini keputusanku. Hingga saat ini, pahit yang dahulu ku rasakan memang benar masih terasa jelas adanya. Memang hingga saat ini, itulah yang aku rasakan. Bahkan, keasingan itu kembali hadir padaku.
Beginilah hidupku yang tenang. Tanpa ada orang yang lain. Hanya ada tawaku, keluargaku, dan temanku. Detik ini, aku masih tidak ingin diajarkan cinta oleh siapapun. Pahamlah, bahwa aku memang masih berada dalam masalalu yang kelam dan aku sedang menikmati hidupku saat ini.


-Michiko