Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

Part #18

“Ada apa denganmu ini? Kau terlihat cuek!” Aku memang tak pernah membiarkan wajahku dan perhatianku terlihat cuek padanya. Ya, meskipun sedemikian yang ia perbuat padaku. Jadi, wajar saja jika ia berontak tatkala menerima respon pahitku ini. “Tak inginkah kau membantuku dalam membuat resensi? Kau tahu betul, kan, kelemahanku?” “Iya, Dam.” Adam menebarkan semyum terimakasih padaku dan meninggalkanku sendiri. Jujur saja, mengapa kala kau membutuhkanku, kau datang padaku? Farah tak dapat membantumu? Ya, aku lebih paham kelemahanmu dibanding Farah. Bahkan, kelemahanmu mendatangiku hanya ketika kau membutuhkanku. Aku menerimamu apa adanya. Bahkan, dengan kelemahan-kelemahan yang kau miliki. Tapi, inikah yang kau lakukan? Kala aku sudah menerima dan menutupi segala kekuranganmu dimata banyak orang, kau pergi begitu saja dan datang bila kau butuh? Lagi-lagi aku menerimanya dengan jeritan tangis yang tenggelam dalam batinku. Kau tak akan tahu itu.             Jeritan itu semakin menjerit dala…

Part #17

Keadaan itu kembali muncul dan membuatku seolah-olah mejadi wanita cengeng dan telah dibodohi cinta.             Begitu juga dimalam hari, hanya perubahan dalam diri Adam yang selalu muncul dibenakku. Hingga mataku yang hendak terlelap, mulai enggan memejamkan mata untuk tertidur. Rasanya bagaikan tubuhku mati rasa karena banyaknya airmata yang nengalir. Butiran-butiran indah itu nyaris membasahi sarung bantal bergambar Barbieku ini. Dinginnya tetes airmata yang membekas disarung bantalku, membuatku perlahan dapat memejamkan mataku dengan tenang.                                                              ***             Mengapa kelas begitu sepi? Terlalu pagikah aku? Biasnya, ketika aku menginjakkan kakiku kedalam kelas, sosok yang begitu istimewa telah bersandar dibangku kesayangannya. Namun, kali ini bangkunya kosong. Tempat itu tak menjadi tempat istimewa lagi. Hanya ada kawan sebangkunya yang sedang membolak-balikkan buku tulis dan mengerjakan pekerjaan rumah yang belum sempat ia …

Part #16

Aku hanya menatapi jalan setapak yang ku iringi dengan hentakkan kecil dari kakiku. “Tidak. Tau apa kau tentangku?” “Hey, ada apa denganmu ini? Kau meninggikan nada kalimatmu. Kau pikir tundukkan kepalamu dapat membuatku bahagia?” Ia mendorong tubuhku yang lemas kala kami berjalan diatas aspal menuju sekolah.             Wanita bertas merah muda itu mendahului langkah kami. “Farah…” Suara itu ikuti dengan hentakkan kaki dengan suara yang berlarian. Ya, Adam berlari menghampiri Farah dan meninggalkanku yang sedari tadi menundukkan kepala. Ya, Tuhan, ingin rasanya aku menjerit. Detak jantungku seolah berhenti kala mereka bersanding dihadapanku yang kesekian kalinya. Tanganku gatal, ingin rasanya menarik dan mendorongnya jauh dari Adam. Aku tahu, lagi-lagi Tuhan masih memberiku kesabaran dan kesadaran. Aku bukan siapa-siapa Adam. itu bukan hakku, aku tak pantas melakukan itu. Aku hanya bisa diam dan bersabar menunggu surga indah yang kelak akan diberikan-Nya. Farah, mengertikah kau bagaim…