Mengenai Saya

Foto saya
Please... Jadilah pembaca yang, cerdas, pintar dan berbudi pekerti. Terimakasih pengertiannya, Gais :) Semua yang saya tulis belum tentu saya dan semua yang kamu baca belum tentu itu kamu.

Rabu, 18 Januari 2017

Part #24

“Qhey? Kok belum masuk kelas? Bukankah kamu tadi berangkat bersama Adam?” Tiba-tiba Mella menepuk pundakku dan aku tertangkap basah kalau aku berangkat sekolah bersama Adam.
“Mel, enggak kok. Tadi aku berangkat sendiri. Ya, seperti biasa.”
“Kamu bohong lagi sama aku, Qhey? Ku hitung-hitung kamu sudah banyak berdosa karena berbohong pada semua orang.”
“Aku sama sekali tidak berbohong, Mell...” Aku tahu siapa Mella dan bagaimana sifatnya. Ia selalu berhasil menemukan kebohongan pada diriku yang selama ini memang kulakukan agar orang lain tidak iba tentang aku dan kehidupanku saat ini.
“Aku gak akan mau buka mulut sebelum kamu jujur dari kebohongan yang sudah kamu perbuat pagi ini, Qhey.”
“Eh, Mell. Yuk, kita masuk kelas. Tapi, kenapa kamu bisa diluar?”
“Aku habis menaruh handphone di loker.” Mata Mella sangat tajam menatapku. Itu pertanda bahwa ia sedang membuat aku berkata jujur. Karena, aku belum menceritakan kepada siapapun tentang kejadian sepulang sekolah kemarin hingga kejadian pagi ini.
“Kenapa sih, Mell?”
“Aku yang bertanya. Kuat sampai kapan, Qhey? Itu matamu sudah seperti berlian. Aku akan tetap menunggu.”
          Aku berhasil menyeretnya tanpa kalah. Mella berhasil masuk ke dalam kelas bersamaku dan duduk tenang di sampingku. Seperti biasa, aku selalu bersikap seperti biasa dan keadaan di kelas pun seperti biasa. Ya, Adam sedang bergurau dengan Farah. Pemandangan yang indah sekali bukan? Bahkan aku tak melihat matahari bersinar cerah ceria.
“Masih kuat bungkamkah, Qheyla?” Mella bertanya dengan nada menggoda. Sesungguhnya aku kesal dengan nada yang disampaikannya. Tapi, ini memang caranya agar aku selalu mengungkapkan kesedihanku.
“Mell, iya, memang tadi pagi aku berangkat bersama Adam. Tapi, bagaimana kamu bisa tahu?”

Mella P.O.V

          Seperti biasa, aku selalu mengawali pagi hariku dengan berjalan menyusuri jalanan komplekku yang panjang ini. Aku sangat menikmati setiap langkahku menuju sekolah, karena aku sangat yakin, akan ada cerita menarik dari Qheyla. Ya, teman sebangkuku, teman curhatku dan pengangguku. Aku mengenalnya baru dua tahun dan semenjak kami kembali sekelas di tahun kedua aku duduk di bangku SMA, ia semakin gencar bercerita banyak tentangnya. Qheyla seorang wanita yang mandiri. Ia selalu ceria dan aku tak pernah melihatnya bersedih, tapi itu dulu sebelum ia mengenal Adam lebih jauh.
          Berbicara tentang lika-liku kisah cinta Qheyla, aku sempat iri padanya. Mulai dari Faqih, Rafa, Radifan, sampai Adam mampu ia gapai. Mungkin sebagian orang akan berpikir bahwa mereka semua adalah kekasih atau mantan kekasih Qheyla, faktanya mereka adalah lelaki beruntung yang berkesempatan dekat dengan Qheyla. Mereka merupakan barisan lelaki populer di sekolah. Yaya.. siapa tidak kenal Faqih? Ketua OSIS, Rafa? Siswa berprestasi, Radifan? Ketua tim futsal, dan Adam? Ketua tim basket. Dari sekian lelaki yang sempat dekat dengannya, memang Adamlah yang paling rumit. Tapi jika dibandingkan denganku, dialah perempuan yang beruntung dan memiliki banyak pengalaman, meski penuh airmata. Tapi dialah sosok yang kuat.
          Selama dua tahun aku berteman dengan Qheyla, akulah yang selalu berhasil membuatnya meluapkan isi hati dan air matanya. Pagi tersenyum, siang terbahak-bahak bersamaku, dan sore tumpah sudah semuanya sendiri tanpa aku atau siapapun. Sudah banyak yang mereka lalui, wajar saja jika semuanya berubah dengan seketika dan tanpa sebab. Jika airmata Qheyla adalah mutiara seperti airmata duyung, mungkin aku sudah menjadi orang terkaya karena airmatanya sudah bertumpuk dipundakku. Hari ini, aku sedang berusaha untuk membuatnya meluapkan segalanya, karena aku tau apa yang terjadi pagi ini.
“Zal, kalau nanti kamu tidak les aku juga mungkin tidak akan jalan. Hahaha...” Satu lagi temanku, Zalfa yang juga teman Qheyla. Aku pikir aku akan menghabiskan dua tahun terakhirku bersamanya.
“Loh, kamu selalu saja begitu. Kenapa sih memang? Tapi aku terus les kok, jadi kamu juga pasti berangkat. Hahaha.”
“Zal, kamu masih berhubungan baik dengan Falah?”
“Alhamdulillah masih kok, Mell. Meskipun aku pernah punya pengalaman buruk bersamanya, tapi aku pikir kita harus tetap menjaga tali silaturahim.”
“Iya juga sih, Zal. Oh iya, tadi saat aku sedang berjalan di Kafaza aku melihat Qheyla bersama seorang lelaki bermotor. Apa itu sepupunya?”
“Hmmm... Aku tidak tahu persis karena aku sampai lebih pagi dari kalian semua. Hahaha... Tapi, itu Adam menurutku.”
“Adam? Sejak kapan ia membawa motor, Fa?”
“Sejak kemarin, Mell. Ia memang mulai membawa motor dan kemarin mereka sepertinya pulang bersama.”
“Kamu mengikutinya ya? Hahaha... Apa masih menyimpan rasa, Fa?” Mereka juga memang sempat memiliki hubungan yang khusus tapi kurasa semua sudah berakhir setelah Falah masuk di kehidupan Zalfa dan kembali berakhir dengan tidak baik.
“Ya enggaklah, Mell. Adam yang menyukaiku, tapi aku tentu tidak. Kemarin aku sempat melihat mereka saat aku sedang di supermarket dekat rumah Qheyla. Aku yakin itu mereka.”
“Rumit, Fa. Sudahlah, masuk kelas, yuk.”
“Yuk, Mell. Tapi sepertinya aku ingin membeli gorengan. Lapaarr...”
          Zalfa sangat rajin membeli sarapan di sekolah dan sendirian. Ia memang seseorang yang tidak begitu memikirkan perkataan orang oleh sebab itu dia selalu fun dimanapun dia berada terlihat seperti tanpa beban.
“Mell, kok belum masuk kelas? Tadi pamitnya ke kelas kan? Hahaha...” Ketika kami bertemu kami selalu tertawa entah apa yang di tertawakan.
“Hahahaa... Iya belum masuk, tapi tadi aku menaruh handphone di loker.”
“Ohiya, Qheyla ada di kantin, Mell.”
“Benar dugaanku. Kalau tadi benar Qheyla dan Adam pasti ada sesuatu sampai Qheyla tidak masuk kelas.”
          Benar-benar keras kepala. Qheyla masih saja bungkam. Aku memang sengaja tidak ingin memulai pengetahuanku tentang kejadian pagi ini, aku memberinya kesempatan untuk bercerita dari awal. Pertanyaan pertama, Qheyla masih kuat menahan. Pertanyaan kedua, terlihat goyah.
“Masih kuat bungkamkah, Qheyla?” Pertanyaan ketiga...
“Qhey. Iya, memang tadi pagi aku berangkat bersama Adam. Tapi, bagaimana kamu bisa tau?”


Bersambung...