Rabu, 11 April 2018

-----


3#Bungkus Kado Buzz

        “Kinan, si Fandy nyariin lo masa, Nan. Gila kali ya dia, gak punya rasa bersalah banget sumpah.” Keluh Nindy ketika ia baru duduk dikursinya yang tepat berada di depanku. Jelas Nindy tidak dengan nada yang lembut. Sambil menaruh tasnya dan memutar tubuhnya dengan kasar kearahku.
          “Waduh, masih pagi, Nin. Santai dong. Gua aja biasa aja ahahahaha...”
        “Gak mungkin lo santai, lo pasti kepo. Gua tau isi hati lo. Nih, ya tadi gue ketemu Fandy di halte, dia ngalangin gue jalan, ya gue berhenti dong ya. Terus dia nanyain lo, sumpah gue udah males banget, rada eneg gitu liat mukanya tanpa dosa banget sumpah deh. Dia masih line lo?” tanya Nindy dengan penuh semangat dan emosi yang sangat dalam.
        “Nanya apa, Nin? Hmmm... enggak line gue sama sekali deh perasaan. Udah gue block juga. Tapi, lima menit kemudian gue unblock lagi, deng wahahahaa...”
           “Agak bloon juga ya lo, Nan. Kayak gini, nih yang mancing. Tapi dia sama sekali gak bahas masalah itu? Ih bener-bener, deh. Benci banget gue. Kenapa lo diem aja sih, Nan? Lo tuh di dzalimi, Nan. Melek napa, masih aja diem, heran gue.”
       “Yaaa... Gimana ya, gua udah males juga, sih. Lagian udah sebulan yang lalu. Bodoamatlah, urusan dia sama Tuhan sekarang.”
           “Lo tuh semacam tolol atau legowo sih? Heran gue, kalau gue jadi lo mah, hih gua telanjanginlah, bodoamat.” Jelas Nindy sambil merobek kasar kertas yang akan dia gunakan untuk menulis
           Fandy Bagasditya, mahasiswa jurusan teknik elektro angkatan 2014. Kisah singkat yang pernah aku alami bersamanya justru membuat kami saling menjaga jarak. Padahal, kami saling mengawalinya dengan baik dan mengakhiri yang seharusnya berakhir dengan baik. Aku yang membuka tali silaturahim dengannya justru merasa sia-sia dan tak berarti. Aku merasa mungkin ada yang salah pada dirinya, sehingga membuatnya menghindar.
            “Ya, kan gara-gara lo juga, Nin. Seandainya, buku lo gak jatoh dia gak akan nemuin gue. Jangan teledor makanya!”
         “Lo juga sih, Nan. Segala ngepoin dia di mawapres. Dari sekian banyak lelaki di mawapres, kenapa lo kepo banget sama dia, deh?”
        “Gatau, ya. Mukanya gak asing soalnya, Nin. Tapi, gak ada hubungannya, ya, wahahhaaaa...” Lalu aku tertawa terpingkal-pingkal dengan kalimatku sendiri.
             “Gak beres lo, Nan. Banyak-banyak ibadah.” Sarannya sambil menepuk pundakku.  
----
    Berawal dari keterpesonaanku kepada seorang mahasiswi yang berhasil mempresentasikan hasil penelitiannya dalam ajang Mahasiswa Berprestasi tingkat universitas. Rambutnya yang tertata rapi dengan gaya ‘poni lempar’ ala Iqbal Coboy Junior, eh Dilan, kacamata yang pas tersangkut pada hidungnya yang terlihat lancip, sepatu pantofel yang mengkilat berwarna hitam, kemeja putih yang dibalut dengan almamater kebanggaan universitas dan jam tangan berwarna hitam yang terlihat jelas karena lengannya digulung dua lipat. Aku yakin, jika aku berada disampingnya pasti aku mencium jelas aroma maskulin yang melekat pada dirinya.
            Tepat setelah presentasi itu selesai dan ia dinyatakan lolos pada babak berikutnya, entah kesengajaan atau ketidaksengajaannya, ia menghampiriku yang sedang duduk di bangku tunggu yang ada didepan aula saat itu. Aku duduk sendiri dan sedang menunggu Nindy, si Miss. Ngaret. Ia menghampiriku tentu bukan tanpa alasan. Ia mengampiriku dengan membawa sebuah buku berwarna pink yang aku pun tak tahu milik siapa.
     “Sorry, lo Kinan ya? Hmm... kenalin gue Fandy, teknik elektro 2014.” Dia memperkenalkan dirinya, padahal aku sudah tahu. Kamu yang membuat aku terpesona, Fan. Dari sekian banyaknya kandidat mahasiswa berprestasi, kamu yang menarikku. (halah)
          “Ah? Iiya, gue Kinan. Kenapa, ya?” tanyaku dengan ragu dan jantung yang mulai marathon, sepertinya.
            “Ini buku... Nindy. Nindy temen lo, kan?” Wow... dia magician sepertinya. Dari mana dia tahu bahwa Nindy temanku? Dan dia mengenalku?
            “Kok tau Nindy, ya? Dari mana? Kok tau gue Kinan?”
        “Ini di dalem bukunya ada namanya Nindy Alika dan diselipan sampul dalam ada fotonya. Terus dibelakang fotonya ada keterangannya Nindy & Kinan. Terus, tadi pas gue keluar dari aula, gue liat lo dan muka lo mirip di foto ini. Gue nemuin buku ini kemarin di pendopo teknik.” Begitu panjangnya penjelasan yang dia berikan. Beberapa kalimat itu diakhiri dengan senyuman yang membuat para wanita sekitar kami mungkin meleleh. Cokelat kali ah, meleleh.
           Aku baru ingat, beberapa hari yang lalu aku dan Nindy pergi ke pendopo teknik untuk belajar bersama karena akan ada ujian lisan. Pendopo teknik merupakan tempat favorit Nindy, karena ia dapat cuci mata dan menunggu kasih tak sampainya lewat, ya walaupun sampai kami selesai belajar pun lelaki itu tidak memunculkan batang hidungnya. Lalu, Nindy ngedumel kesal dan menyesal belajar disana. Begitu juga buku catatan berwarna pink itu memang milik Nindy yang didalamnya terselip foto kami berdua.
        Pada saat itu, aku berterima kasih pada Nindy dan buku catatannya. Berkat pertemuan itu, aku dan Fandy menjadi sangat dekat. Bersama Fandy, aku melupakan Atta yang selama ini menjadi pahlawan kesianganku. Memang terkadang kami bertemu, tapi tak sesering dulu. Rasanya, aku lupa untuk nebeng Atta (pasti Atta sedang bersyukur). Tak jarang juga aku dan Fandy menghabiskan waktu bersama setelah pulang kuliah.
        “Nan, apa yang lo rasain kalau lo lagi sama gue? Seneng gak? Kan udah lama lo main deket-deket ama gua.” tanya Fandy sibuk menatap aku yang faktanya benci sekali ditatap.
         “Apaansi, Fan? Ya, senenglah. Masa iya gak seneng.”
      “Asiiikkk... Kinan seneng kalau sama Fandy. Kalau gua punya pacar gimana, Nan?” terasa dipanah banget gak si, jalan bareng ya tetap tidak kendor bertanya hal-hal klasik. “Marah kek.” Katanya sambil menyipitkan mata.
         “Basi basi basiiii.... Rada gak nyambung ya, Fan. Itu semacam memancing keributan!” Lalu aku memekarkan hidungku sebagai pertanda sudah males melanjutkan topik yang Jaka Sembung Bawa Golok ini.
          “Jelek kalo gitu, Nan. Tapi, gua tetep suka.”
      “Weeeiiitttsss!!! Ngerdus, shayyy...” Tegasku sambil mengangkis tangannya yang hendak menyentil jidatku. Padahal yang bermasalah hidungku, mungkin dia geli menyentil hidungku, atau ada upil, ya.
        Kemudian hening. Jus dan makananku datang. Kali ini bukan Patbingsoo, tapi Jus Alpukat dan kentang goreng dengan saus cabai dan mayonaise disampingnya.
           “Lo punya pacar, Nan?”
        “Enggaklah, Fan. Kalau punya, dua bulan full makan, main, pulang bareng dan ngerjain tugas bareng lo, masa pacar gue gak marah.” Mengerjakan tugas bersama, padahal jurusan kami berbeda. Ini adalah trik kami berdua agar bisa terus bersama. Namanya juga anak muda dilanda asmara.
         “Enggak punya atau belum punya? Kalau belum, bentar lagi bakalan punya.” Wah, Fandy benar-benar memancing keributan dimalam hari dengan bibirnya yang terangkat sebelah saat senyum. Senyum yang memancing lagi. Iya, memancing Kinan khilaf.
            “Yee.. apaan dah, Fan. Kayak Mbah Mijan lo ye..”
         “Yee.. malah ngajak bercanda si Nunung.” Aibku kembali terbongkar setelah ia berhasil menarik jus yang hendak ku sedot menjauh dari bibirku. Ia menarik gelasku saat aku sedang mengambil ancang-ancang untuk menyedot. “Yhaaa!!! Monyong amat, Nung.”
            “Sialan, kan. Bisa gak iseng sehari, gak sih?!”
            “Kata orang iseng itu salah satu tanda sayang. Cie, deg-degan ya, Nan.”
            “JADI GAK NAFSU.”
            “Gak nafsu makan sendiri kan maksudnya? Sini gue yang suapin.”
        “Coba suapin coba. Buruan kalau berani.” Aku menganga dan mendekat ke arah Fandy. Tapi tidak dengan jarak yang..... sangat dekat.
          “Gak ada sekup tapi, ya?” Ledeknya sambil mencari sekup, sepertinya. Kemudian aku menyiramnya dengan jus alpukat. Tapi, terhenti.
       Iya, begitulah Fandy. Menggemaskan dan menyebalkan. Tapi aku belum mulai menyukainya dengan hati. Masih sama, hanya sekedar kagum dan nyaman bersamanya. Baru nyaman, belum sayang. Mending mana?
         “Makasih ya, Fandy buat hari ini. Main basket di lapangannya seru, makasih juga udah disuapin pake sekup. Gue tunggu suapan selanjutnya pake cangkul.”
           “Berarti kalau gua ngelamar lo gua kasih satu set sekup kali ya buat peralatan dapur. Huahahahahaaa.....” Hobi terbaru Fandy, terbahak.
            “PERGI LO!”
            “Untung diusirnya pergi dari rumah, bukan dari hati. Hehehe... Ohiya, Nan ini buat lo. Sengaja ngasihnya pas udah mau masuk rumah, biar kebayang sampe mau tidur, kalau bisa sampe kebawa mimpi. Malah sampe gabisa tidur. Wakakak...” Serunya sambil melempar sebuah benda yang dibungkus rapi dengan kertas kado. Kenapa harus dilempar, ya? Karena, sudah larut ia memutuskan untuk tidak bertemu bunda malam ini dan ia masih bertengger dimotornya untuk bergegas pulang. Ini kali pertamanya ia mengantarku sampai rumah. Entah kapan ia akan bertemu bunda untuk yang pertama kalinya. Jujur, aku benar-benar tidak enak karena ia masih harus melewati jalanan yang panjang menuju rumahnya, Tebet-Cawang.
           Lalu benar, aku tidak bisa tidur.
***
(Notif Line)
Fandy  :
Morning....
Morning....
Morning....
Me       :
Bujug, ampe 3 kali. Padahal waktunya sama. Nge ping cara baru ya?
Morning juga yaa..
Fandy  :
Sengaja tiga kali
(Sticker matahari)
Me       :
Kenapa gitu? Hobi nyepam ya?
Fandy  :
Soalnya, kalo sama orang yang spesial ga cukup sekali doang ngucapinnya
(Sticker hug)
Me       :
YAELA MBAH MIJAN, SA AE!
        Hari ini aku libur ke kampus, ya karena memang jadwalnya libur. Tapi, mataku seperti panda. Fix. Bukan karena mengerjakan tugas, tapi karena kutukkan Fandy malam tadi. Kado yang dilemparnya menjadi sebab aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Biasanya, aku merasakan kenyenyakkan istirahat malamku bersama bayangan anak dan ayah, Guanlin bin Chanyeol. Tapi, posisi mereka malam tadi terganti oleh kado bersampul Buzz Lightyear dari Fandy. Padahal hanya sebuah kado, ya.
         Luarnya sangat menarik. Fandy memang paham betul aku sangat suka dengan Buzz Lightyear. Lalu, Fandy bertanya, ‘kenapa suka Buzz? Paling suka Toy Story yang keberapa?’, dan aku menjawab ‘gak pernah nonton Toy Story sampe habis. Gatau juga urutannya yang mana, cuma tau yang si Woody nya sedih.’ Sambil melihat dan memilih mainan yang cocok untuk hadiah ulang tahun keponakannya, Fandy kembali membuka mulutnya, ‘gimana ceritanya suka Buzz tapi gak nonton Toy Story sampe tamat? Aneh banget dah.’ kemudian aku mengklarifikasi agar tidak ditertawakan, ‘soalnya perpaduan warna Buzz itu cantik. Hehe...’ Alhamdulillah, Fandy tidak tertawa hanya, melirik sinis aku yang sedang mendangak melihat boneka Buzz dan kawan-kawannya di etalase bagian atas, yang tingginya lebih dariku.
        Wow, malam yang mengejutkan. Penyesalan yang tak berujung karena membukanya ketika sudah siap untuk tidur. Aku sangat suka dan terkejut dengan isinya. Sebuah binder custom Buzz Lightyear. Untung saja bukan bunga. Bunga apa kek, percuma kan ya, dia bakalan layu dan aku bukan tipe orang yang senang diberi bunga, lebih baik ditraktir makan KFC Wingers, hehehe.
        Bindernya biasa saja, tidak ada nilai lebih selain Buzz dan warnanya. Tapi, setelah aku membuka isinya, menarik dan membuatku tidak bisa tidur dengan tenang. Lembar kertas putih biasa tertata rapi sebagai isinya. Namun, terlihat berbeda di bagian pembatasnya yang dijadikan satu disisi depan. Masing-maising pembatas memiliki perbedaan pada kalimat didalamnya. Ooo... kalimat motivasi ternyata. Lumayan juga, ya si Fandy Teguh ini. Lumayan aneh setelah dibuka. Tapi, patut diapresiasi.
Pembatas 1     : Selamat datang....
Pembatas 2     : Semoga kuliahnya tetap semangat!
Pembatas 3     : Jangan males-males ya nulis materinya. Tulisannya bagusan dikit! (agak meledek)
Pembatas 4     : Minimal lulus 4 tahun, kalau bisa 3,5 tahun ya!!!
Pembatas 5     : Biar ‘mau fokus kuliah’ bukan lagi jadi alasan kita untuk bersama. To infinity and beyond!!! (mulai tak enak hati)
Pembatas 6     : Tertanda, Buzz Lightyear-mu. (ternyata benar)
       Lalu, kantung depan dalam bindernya diselipkan photocard Kai dan Chanyeol, Exo edisi Power. Diakhri dengan Jihoon dan Bae Jinyoung, Wanna One edisi Nothing Without You dikantung belakang. Biar selalu ingat dia, katanya. Ingat apanya, ya.
Me       :
Fan, dimana?
Makasih ya kadonya, hehe. Kan gak ulang tahun. Suka luar dan isinya.
(Sticker happy)
Fandy  :
Di rumah, nih. Udah balik. Alhamdulillah....
Oh udah dibuka? Syukurlah kalau suka. Gak seberapa, ya tapi...
Suka sama oppa nya gak? Biar gak berisik ngomongin Yal Yeol, bihun bihun deep apa itu. Jangan ilang itu photocardnya. Kalau ilang gak ada yang mau beliin tu nanti. Mahal!!
Suka pembatasnya gak? Atur sendiri ya yang mana motivasi yang prioritas semoga sih yang ke lima. Wkwk
Me       :
KAYAK GAK IKHLAS GITU Y. Suka, kok. Btw, beli photocard dimana coba? Jangan-jangan lo follow akun olshop kpop, yaaa?????? Maaf ya selalu bawel tentang mereka, tapi jangan salah sebut yaaa wkwk. Tapi, hubungan Buzz sama mereka apaan coba?? Lo ganti nama aja kali jadi Jaka Sembung Bawa Golok.
HMMM AJALAH YAAA....
Fandy  :
Buzz nya kan ceritanya gue, jadi pas baru ambil bindernya, lo bakal inget gue. Terus, gakpapa lo suka sama oppa oppa itu. Simpen oppa itu di binder dari gue, udah gue kasih fasilitas. Nih ya, biar lo inget gak boleh nyimpen tuh oppa di hati lo. HALU, NAN HALUUUUU... Ngomong apasi gue. Yaudah intinya itu buat lo, nanya mulu ribet banget deh!!
Me       :
Hahaha... tetep gak ada hubungannya :( Tapi bisa gitu yaaa... POKOKNYA, MAKASIH YAAAAA!! Tapi, gak usah nge gas!!
Fandy  :
Sama-sama yaaa... walaupun tetep gak nyambung, lo harus pikirin dari sekarang isi bindernya. Biar nanti kalau ditanya gak bingung. HEHE. Bercanda, tp klo lo mau anggep beneran gapapa, siii... Anggep beneran, kek!
Yeu nunung!!
        Apa hanya aku yang tidak bisa tidur karena hal sekecil itu? Bukan karena romantis, tapi aku mulai takut. Takut pokoknya. Takut semua ini semakin menjadi diluar kendaliku. Ditambah lagi dengan obrolan kami saat paginya. Aku yang harus mengucapkan terimakasih dan ia mengingatkanku untuk melanjutkan tindakannya. Bagaimana ya, bukan ini yang kuharapkan. Tapi, tunggu ada yang terselip dibalik photocard itu...
Me       :
Fandy!! Kok ada 2 tiket dufan??
Fandy  :
Tanggal segitu free kan? Bawa 2 tiketnya, ya. See you!!!
(Sticker bye)
Me       :
Kita ke dufan?? Apa lo jualan? Apa salah masukin, cui?
Fandy  :
Gak kok buset. Gue cuma mau bikin lo seneng dan biar si dufan yang bantuin gue bikin lo seneng.
            Kemudian, aku tidak tenang lagi melewati malam. Tidak sabar menunggu hari itu tiba. Perlu kubuat list yang akan kulakukan bersamanya kah? 
*** 

Selasa, 13 Maret 2018

-----

2#Sweet Patbingsoo

         Pagi ini aku harus berangkat kuliah seperti biasanya. Selesai sholat shubuh aku harus cepat-cepat pergi agar tepat jam delapan aku sudah duduk santai di kelas. Memang terasa melelahkan tiap hari harus bergulat dengan kemacetan, kesempitan, dan keharuman kemeja-kemeja kerja didalam angkutan umum sepanjang jalan. Wow, harum parfum dan asap jalan yang berpadu dengan apik. Syukurlah pagi hari masih terasa harum parfum seperti di televisi yang harumnya sepanjang hari. Aku tak akan berkomentar saat aku kembali menaiki angkutan umum ini saat jam pulang.
      “Cihuuyy... hai Kinaaann...” Teriak Atta dari belakang lemari yang suaranya sudah terdengar jelas.
        Sebelum aku memasuki kelas aku harus mampir sebentar ke ruang dimana tempat aku dan Atta dipertemukan. Iya, tepat sekali ruang Unit Kesenian Mahasiswa. Organisasi inilah yang mempertemukan kita sampai kita seakrab ini.
       “Apa, Ta? Gak kelas lo?” tanyaku sambil mencari buku yang sengaja kutinggal di lokerku.
            “Gaklah, masih jaman kelas? Lo balik gak nanti? Ama gue, yuk. Gua juga mau balik, nih. Gak kangen sama gue? Btw, capek kali naik trans, sendiri pula.” Ajak Atta dengan basa-basinya. Padahal jelas aku pasti pulang kenapa dia masih bertanya. Hmm... iya sendiri, ya Ta.
       “Jangan mau, Nan. Ngajak Kinan, itu si Gya gimana? Bisa aja lo buaya.” Sahut seniorku yang sedang asik bermain Mobile Legend sambil bersandar ke tembok.
            “Apasi, Bang? Buaya teriak buaya. Bikin Kinan bete ama gua aja, sih. Bete ya, Nuy? Jangan dooonngg... kan mau pulang bareng kita. Nanti makan eskrim gimana? Vanilla ya? Suka kan?” bujuk Atta sambil menarik-narik lengan kemejaku.
           “Berisik lo Atta. Bawel banget da ah. Gue mau kelas. Bye.” Jawabku sambil memakai sepatu.
           “Nanti Line gue aja, Nuuuyyy...”
        Rasanya Atta memang selalu manis, saat bersamaku. Jika boleh aku jujur, aku terbawa perasaan dengannya. Memang aku dan Atta jarang bersama, sangat jarang. Tapi, jika sekali bersama, Atta akan melimpahkan seluruh sikap manis dan keberhargaannya aku untuknya, bahkan betapa pedulinya dia padaku. Tak sedikit orang yang menganggap kami adalah pasangan kekasih, termasuk Mas Raffi. Saat pertama kali bertemu, Mas Raffi langsung mengulurkan tangannya dan berkata ‘Alhamdulillah, Mas bisa liat bentukkan masa depan kamu, Ta.’ Saat itu pula Atta mengaminkan sembari tertawa. Aku yang hanya diam membeku berusaha menyerap pembicaraan mereka yang baru kupahami dari ruang tamu rumah Atta.
          Memikirkan perkataan seniorku tentang Gya yang diperkirakan menjadi calon kekasih Atta, aku tiga puluh persen yakin, tapi lebih banyak ketidakyanikannya. Mana mungkin Gya menjadi incaran Atta? Perempuan yang sama sekali bukan tipe Atta. Ups, mungkin aku belum mengenal Atta sejauh itu. Entah kenapa aku berdo’a semoga tidak, padahal apapun yang Atta lakukan seharusnya aku mendukung. Tapi rasanya, tidak untuk kali ini. Gya sangatlah kekanak-kanakkan dan aku rasa dia memang tidak cocok dengan Atta. Jika sikap kanak-kanak berpacaran dengan sesamanya, habislah sudah. Keposesifan Gya juga sering menjadi bahan pembicaraan antara aku dan Atta saat kami menjadikan kisah Gya dan kekasihnya sebagai makanan sehari-hari di sekret, bahkan di tempat parkir. Mana mungkin Atta tahan dengan itu?
        Pernah beberapa bulan yang lalu, kami melihat Gya turun dari motor seorang lelaki dipinggir jalan. Aku dan Atta hanya saling melirik di spion, berpikir antara mepilir untuk menghampiri Gya atau tetap berjalan lurus. Ya, memang pada akhirnya kami melipir dan menciduk Gya yang sedang mengusap air matanya. Lagi-lagi Atta membuka mulutnya tentang keheranannya dengan Gya. Belum lagi beberapa minggu setelah itu, Gya membawa kekasih barunya ke sekret yang membuat kami berdua kembali saling melirik, bahkan mendorong siku satu sama lain. Saat itu juga Atta menarikku kebelakang sekret dan berbisik ‘Gila si Gya, kmrn nangis-nangis di trotoar sekarang udang gandeng yang baru. Lo gitu ya, Nuy? Wah gila sih, cepet banget, Nuuy.’ Dengan terheran-heran Atta sesekali mengintip dan mendengarkan pembicaraan antara Gya dan kekasih barunya. Dasar tukang nguping!
Atta      :
Kinuy, mau bareng gak? Aku tunggu di ruang Kesenian ya.
Me       :
Mau. Tunggu bentar. Satu soal lagi kelar. Tunggu!
Atta      :
BOOOMM!!! Sudah kuduga, Nuy. Tukang nebeng tapi gengsi. Siap boskuu
Me:
Bacot ya lo!
Atta:
(Sticker peluk)
         Kuaktifkan mode pesawat agar aku tetap fokus menyelesaikan satu nomor pada tugas individuku. Hal yang sangat biasa ketika dosen tidak hadir, mereka pasti menitipkan secarik kertas yang berisikan soal.
          Kinanku. Kins. Kinuy. Mungkin beberapa orang yang mendapatkan panggilan itu akan menyebutnya panggilan kesayangan. Begitu juga Atta, ia mengganggap itu adalah panggilan sayangnya untukku. Normalnya, semua temanku memanggilku dengan nama Kinan. Tidak ada panggilan lain dan itulah kenapa orang tuaku meletakkan Kinan ditengah-tengah nama panjanganku Nayla Kinan Azzahra. Atta tidak akan membiarkan orang lain memanggilku selain Kinan, terlebih sama seperti panggilan yang ia sediakan untukku,  terutama Kinuy. Nama ku di ponselnya pun Kinuy dengan emot eskrim untuk sedikit mengindahkannya, ungkapnya. Entah kenapa ia sangat nyaman memanggilku Kinuy. Aku juga paling hafal dengan gaya bicaranya ‘aku-kamu’ ia lebih sering menggunakan ‘aku-kamu’, herannya itu hanya berlaku saat melalui chatting dan ketika sikap kemanjaannya muncul. Unik dan menyebalkan, tapi aku mulai sayang untuk kehilangannya, karena dia memang tempatku kembali.
      Baru dua bulan kami dekat, aku sudah hafal trik yang selalu ia gunakan ketika ia menginginkan sesuatu. Wajah melas dan suara yang dibuat-buat sebenarnya sedikit menjijikan dan menyebalkan. Tapi, kadang memang momen seperti itu yang kutunggu darinya.
           “Lo gak mungkin nolak, Nuy. Kecuali kalau lo diajak pulang bareng sama anak teknik elektro itu, iyakan?! Lo juga diturunin dipinggir jalan kan? Sukurin aja tuh lama-lama kayak si Gya, nangis di trotoar. Norak.” Ejek Atta sambil berkespresi meledek.
            “Gak gitu juga. Gak boleh kayak gitu, Ta. Gak suka ah. Kita kan satu perumahan, ya lo nganter sampe gue ketemu bunda dan ayah lah. Dia kan beda arah. Dari kampus aja beda, Ta.” Bantah ku sambil memakai jaket yang sebelumnya kupakai saat berangkat ke kampus. Iya, itu masih jaket Atta yang kupinjam. “Ta, ini gak bisa masuk tangannya, nyangkut apa gimana, ya? Tadi pagi bisa padahal.”
           Ah! Sial. Tanganku tersangkut didalam lengan jaket Atta dan tidak bisa keluar. Jaket yang tadi pagi ku pakai dalam keadaan baik-baik saja. Lalu kenapa ini tersangkut.
           “JANGAN DIPAKSA!!! Ini jaket terbaik gue, nanti jebol gue musuhin lo. Gue turuinin dipinggir jalan!!!!”
          “Egila, iya enggak, ini gimana? Gabisa di tarik keluar juga. Gue dorong aja ya biar muncul telapaknya, masa gini gue. Tangannya buntung hahahaa...”
           “Jangan didorong dong Dian Sastro, nanti jebol itu ketarik. Sini bentar...” Atta mulai mencari tanganku melalui lubang diujung lengan jaketnya. Ia mencari dengan mata dan berusaha meraih telapak tanganku yang terkepal di dalam lengan jaket itu. Dalam posisi sama-sama berdiri, ini cukup memakan waktu yang lama. Tengkleng kepala ke kanan, begitu juga sebaliknya pertanda bahwa aku sudah bosan. Ku gerak-gerakkan kaki pertanda lelah. Atta juga tidak berinisiatif mengajak duduk sembari mencari kepalan tanganku. Begitu juga Atta yang mulai menyipitkan matanya sampai ia berhasil membuka lubang pada lengan jaket dan meraih tanganku .
      “Cepet tangannya udah kebuka ini. Pelan-pelan, Bu. Ibu bisa... udah keliatan kepalanya.” Serunya dengan penuh semangat layakya dokter kandungan.
           “EMANG GUE MAU LAHIRAN?! Yes! Good job Atta hahahaa... Besok-besok kalau minjemin yang ikhlas, ya. Biar gak kesumpel gini, kan pusing gu...”
         “Ahahahaaa... Im sowy Kinan.” Usapan tangannya dikepalaku yang terbalut jilbab membuatku terhenti melanjutkan kalimatku. “Udah ayuk, naik udah aman kan tangannya?” Aku tersadar bahwa sedari tadi aku memandangi Atta. Momen ini ternyata menambah kapasitas kami dalam berpandang. Tak jarang kami sama-sama tertangkap sedang memandang. Ah, aku yang memandangnya, manis ternyata.
          “Kalau ngantuk bilang, ya. Soalnya nih ya, kayaknya motor ini lebih nyaman dari yang kemarin. Pegangan pinggang gue, Nuy. Ahahahaa bercanda kali! Gemeter lo sampe kerasa, nih.” Itu kalimat yang tak pernah absen dari mulut Atta ketika aku akan duduk dimotor kesayangannya. Lagi-lagi ia bercanda yang sama sekali tidak lucu.
          “Kampret!! Siapa juga yang mau pegangan pinggang lo.”
         Atta kembali mencegah tragedi yang beberapa waktu yang lalu hampir terjadi saat aku diboncengnya. Sifat Atta yang peka dan sigap membuatku menunda jatuh dari motor karena mengantuk yang keduakalinya. Belum terlambat aku menikmati rasa kantukku, Atta sudah memarkirkan motornya di sebuah kedai eskrim. Tentu saja dengan alasan aku yang tak lagi bersuara, karena mengantuk yang ia intip dari kaca spion.
        Sebelumnya aku memang pernah naik motor yang lain yang membuat aku hampir jatuh karena mengantuk, motor itu pemberian Mas Raka, yang sekarang diminta kembali. Motor pemberian Mas Raka itu motor gigi, sedangkan motor baru pemberian Mas Raffi, motor metic yang jelas lebih nyaman dibanding motor yang sebelumnya. Sebenarnya tidak ada hubungannya, tapi entah bagaimana aku bisa mengingat sedetail itu, bahkan plat nomor motor Atta sebelumnya.
        “Nan, enakan naik motor ini atau yang kemarin?” tanya Atta.
        “Enakan inilah, Ta hahahahaa... Gue juga suka sama bentuk dan warnanya. Seksi gitu, Ta body nya. Warnanya gak banyak cuma hitam putih. Lebay banget ya, gue. Tapi beneran, ganteng lho, Ta...”
       “Gue ganteng gak, Nuy? Jujur! Tapi, aku juga nyaman sama dia, nih. Gak bakal diambill juga sama Mas Raffi ahahahhaaa...”
         “Dia kayaknya cocok sama Tulus, deh. Soalnya warnanya monkrom” ucapku spontan.
       “Hmmm... hitam putih ya? Dasar Tulus ya, lo.” Aku suka dengan penyanyi Tulus, apalagi dengan lagunya yang berjudul Pamit. Itulah sebabnya aku mengucap monokrom dengan spontan dan Atta mulai menggoda karena ada cerita dibalik lagu Pamit menjadi lagu favoritku.
         “Karena dia bikin kita nyaman dan lo yang pertama gue bonceng pakek motor baru ini, gue resmikan julukan motor ini, Monokrom.”
        “Hai, monokrom. Please jaga temanku, ya. Jaga siapapun yang kamu bawa.” Do’aku untuk monokrom yang baru terlahir kedunia tanpa di aqiqah.
          “Love you, Krom... Jangan pamit, Krom. Iya, jangan pamit kayak dianya Kinuy.” Ledek Atta sambil tertawa cengengesan. Sedangkan aku, hanya bisa memukul helmnya yang membuat kepalanya turut terguncang dan terasa sedikit sakit. 
        Hampir setengah perjalanan, Atta menghentikan motornya disuatu toko eskrim. Atta sangat paham bahwa temannya ini hobi sekali mengkonsumsi eskrim. Aku pikir, ini toko eskrim biasa. Ternyata, toko ini menjual eskrim seperti toko eskrim di Korea yang pernah aku bahas juga dengannya. Suasananya juga mengambil suasana Negara Korea.
          Saat kita masuk Patbingsoo Korean, kita disambut dengan suasana seperti di stasiun kereta api Korea Selatan. Terdapat petunjuk arah dengan huruf Hangul. Terdapat juga kursi panjang yang terdapat di Namsan Tower, salah satu objek wisata di Korea Selatan. Aku kebingungan memilih menu eskrim. Sedangkan, Atta hanya memandangiku dan mulai lelah karena aku tak kunjung menemukan menu yang tepat.
       “Berapa menit lagi bisa ngasih keputusan? Kayaknya seminggu, nih.” tanya Atta sambil meletakkan kepalanya diatas meja.
         “Ahaahahhaaa... ini lucu soalnya. Jadi, kebayang oppa. Yaudah gue mau ini, deh.”
    Aku memesan Yeuido Patbingsoo. Namanya lumayan sulit dilafalkan tapi tampilannya, mempesona. Resto ini menyediakan es serut kacang merah ala Korea Selatan. Ya, seperti eskrim yang dimakan Daehan Minguk Manse si Triplets yang menggemaskan. Es yang ku pesan ini es serut kacang merah dengan tambahan eskrim lembut diatasnya. Yang unik dan membuat aku terpesona adalah terdapat kue ikan diatas eskrimnya atau nama Koreanya Bungeoppang dengan tambahan coklat cair diatasnya yang menambah kesan eksotis eskrim ini.
         “Happy?” tanya Atta yang hanya memesan Patbingsoo dengan topping oreo, almond dan choco stick.
          “Happy banget. Kesampean juga makan eskrimnya Minguk.”
         “Kumaaaaattt!!!!!!!!!! Jangan buru-buru, masih sore nikmatin aja. Biar ga nyesel, besok gak ada yang ngajak lagi soalnya.” Ledek Atta sambil menggigit choco sticknya.
        Aku sangat bersyukur jadwal kuliah kami hanya sampai pukul satu siang. Aku juga bersyukur memiliki Atta yang peka dengan kawannya. Sendok demi sendok aku berusaha menikmati eskrim yang eksotis ini. Tapi, enggan rasanya menghabiskannya. Ingin sekali aku mengabadikannya dan ku kirim pada Chanyeol Oppa. Tapi sayangnya, ponselku mati. Apa rasanya Patbingsoo yang indah ini tanpa kehadiranmu, Chan? Rasa eskrimnya tetap manis, dong, karena seseorang tertangkap benar-benar sedang memberhatikanku dengan anggukan kepala mengukuti alunan musik korea yang diputar.
#NowPlaying-Kim Ez_Because Of You
***