Mengenai Saya

Foto saya
Please... Jadilah pembaca yang, cerdas, pintar dan berbudi pekerti. Terimakasih pengertiannya, Gais :) Semua yang saya tulis belum tentu saya dan semua yang kamu baca belum tentu itu kamu.

Selasa, 18 April 2017

Aku yang Jahat!


Ini salahku. Aku yang egois. Berusaha membuat diriku tetap terlindungi namun aku menyakiti orang lain. Membiarkan orang lain terambang di atas air tanpa pelindung. Sedangkan aku? Terambang diatas air dengan pelampung dan memaksanya tetap disampingku meski dalam bahaya. Egois bukan?
***
Seperti biasa, aku melakukan rutinitasku dengan pujaan hatiku di perpustakaan. Siapa lagi kalau bukan si tugas yang indah nan menawan ini. Kali ini aku selalu disibukkan dengan tugas proposal penelitianku, padahal aku baru menginjak semester ketiga. Bisa dihitung berapa kali aku menginjakkan kakiku di perpustakaan dalam seminggu. Tidak pernah, bahkan. Sejujurnya, aku adalah mahasiswi yang malas dengan harapan nilai yang memuaskan tiap semesternya.
Dengan terlunta-lunta aku memasuki pintu perpustakaan yang asing bagiku. Mahasiswi macam apa aku ini. Aku mulai mencari loker dengan nomor 112, dari bawah, kanan, kiri, ya! Aku menemukamu loker. Kuletakkan seluruh benda-bendaku kedalam loker itu dan dengan siap sedia aku melangkah menuju bilik buku di lantai dua. Inikah yang dinamakan siap sedia? Rasanya seperti menaiki seribu anak tangga. Konyol.
“Maaf, meja ini kosong ya? Bisa saya duduk?” Kudekati seseorang yang tengah duduk sendiri di meja perpustakaan kampus.
“Ah, iya. Kosong. Silakan.” Jawabnya tanpa melihat lawan bicaranya.
“Kak, maaf saya mau tanya. Kalau kumpulan buku-buku Bimbingan Konseling dimana ya, kak?”
“......” Lelaki dihadapanku bukan menjawab malah melirikku.
            Menyusahkan sekali, ya. Aku kan bertanya minta bantuan. Kalau aku sudah temukan buku yang kumau, jelas tidak mungkin aku bertanya dengan orang yang tidak aku kenal. Siapa sih dia? Lelaki rapi dengan kemeja kotak biru dan jeans biru dongker dengan rambut yang tidak terlalu rapi yang juga diperpadukan dengan jambul serta sneakers putih dengan tali hitam. Kalau dilihat-lihat dari penampilannya, boleh juga sih.
“Kanaya!” Sapa teman sekelasku.
“Eh, kok lo disini juga? Tau gitu bisa bareng kali ke perpusnya.”
“Hahahaha... Gue juga baru kepikiran buat ke perpus, padahal males juga ya kan.” Suara kami menggema disetiap sudut perpustakaan dan sontak kami menjadi bahan tontonan gratis orang perpustakaan dengan tema ‘Dua Mahasiswi Tak Tahu Malu’. Tak lupa lelaki berjambul itu menatap kami dengan sinis sedangkan aku dan Fathya hanya bisa tersipu tanpa mengenal malu.
“Bar, ayok rapat. Udah jam berapa ini? Berehenti dulu kali bacanya.”
“Eh, iya, Ziz. Bentar-bentar gue beresin barang gue dulu.”
            Bar? Ibrar? Bukanlah. Akbar? Ah, nama lelaki itu Akbar. Jelas benar Akbar namanya. Menyebalkan, tapi besar pesonanya.
***
            Hari ini hari pertama aku masuk kelas Pancasila. Jarak antara gedung fakultasku dengan gedung kuliah umum lumayan jauh. Aku harus menyebrang pulau dulu untuk sampai ke kelas Pancasila—Kanaya Faradisha, otak dengkul. Tidak, aku hanya bercanda. Tapi benar, jaraknya lumayan jauh cukup menguras keringat dan air minum. Kanaya memang selalu berlari untuk menyebrang, karena waktu perpindahan mata kuliah yang sangat pendek jaraknya. Buuukkk!!!
“Aduuhh!!! Maaf.”
“Yaampun, makalah gue.”
“Yah, maaf kak, maaf. Saya gak sengaja serius deh. Saya buru-buru banget.”
“Eh, lo lagi? Kenapa sih? Lo siapa sih?”
“Kak, kenalin aku Kanaya Faradisha, Bimbingan Konseling, 2015. Maaf, ya kak Hehe...”
            Kakak Akbar ternyata. Lelaki yang kutemui di perpustakaan itu mendinggalkan aku ditengah lapangan yang ramai. Sebelum aku bertanggung jawab karena perbuatanku yang begitu pahit dan tak tahu malu.
            Sampailah aku dikelas yang tak kutunggu sama sekali keberadaannya. Aku jelas ragu masuk kedalam ruangan. Ini bukan teman-temanku semua, kami dipecah. Dikelas ini, aku akan bergabung dengan orang-orang dari berbagai jurusan. Kalau dipikir-pikir, ada untungnya juga. Siapa tau... —Kanaya Faradisha, otak dengkul yang gemar mencari kesempatan. Ku intip tiap-tiap jendela di sepanjang lantai delapan. Tapi, ya dari mana aku bisa tahu kalau itu kelasku, padahal aku tidak tahu rupa dari dosen baruku itu. Alah! Aku kan menyimpan nomor ruangan. Ruang 908, tapi ini lantai delapan. Oke, naik satu lantai lagi dan cari ruang 908, Nay.
(TokTok) “Misi, pak ini kelas bapak Mahmudi bukan, ya Pak?”
“Ya, masuk-masuk.”
            Aku harus menyusuri mataku di setiap sudut ruangan ini. Mana tahu ada seseorang yang ku kenal. Satu, dua, tiga, empat, loh? Akhirnya, aku menemukan seseorang yang benar-benar kukenal, Kak Akbar. Kenal?
“Jadi ini angkatan 2015 semua, ya.”
“Ha? Kak Akbar 2015?” Lagi-lagi aku menjadi tontonan dikelas baruku. Lagi-lagi aku tertunduk tak tahu malu.
“Akbar siapa? Akbar Syahada Syahputra? Teknik Sipil. Catat, Kanaya.” Ternyata benar dugaanku, Akbar namanya dan kita seumuran. Akbar menatapku dengan tajam. Ia pasti malu karenaku. Sangat tajam. Kali ini, mungkin setajam silet atau bahkan golok kambing.
            Siapa yang mengira, Tuhan menakdirkan kita selau bersama. Aku berpasangan dengannya untuk tugas diskusi Undang-Undang. Sikapnya pasti dingin, ini karena aku yang tak tahu malu. Tapi aku tetap senang. Akbar Syahada Syahputra, Teknik Sipil, si jambul manis.
***
“Bar, gimana ini? Masa kerja kelompok lo diem-diem aja. Ngomong ama apa coba gue.”
“Kan udah gue kasih tugas, kan? Yaudah kerjain. Nanti kalau udah baru dibicarain.”
            Ternyata justru dia yang tidak bekerja. Ia membaca komik yang sejak awal pertemuan di perpustakaan itu ia baca dan belum tamat. Lalu, bagaimana nasib materi diskusi ini? Haruskan aku merasakan seribu anak tangga lagi?
“Bar, asli deh dua jam lagi kelas kita masuk. Gue udah absen kuliah program studi, nih. Tapi, lo malah main-main.” Keluhku sembari membolak-balikkan buku Pancasila.
“Yaudah. Ayuk masuk kelas.” Akbar pergi meninggalkan aku bersama laptop merahnya.
            Dengan sangat senang hati seorang Kanaya Faradisha mengerjakan tugas diskusi ini seorang diri. Sampai perginya Akbar tadi, aku tetap melanjutkan materi kami dengan bibir yang bisalah diukur dengan meteran bangunan. Setelah diukur dengan meteran bangunan, giliran kakiku yang berkorban. Berlari dari perpustakaan menuju warung cetak dilanjutkan menuju warung jilid dan diakhiri di ruang 908 dengan air minum yang kosong. Sedangkan Akbar, duduk manis dengan meneguk sebotol air meniral dihadapanku yang sedang tarik ulur nafas.
“Udah? Sini duduk samping gue.”
Uuhh... Akbar! Coba sikapnya gitu terus. Manis, deh. Sayang, galak. —Kanaya Faradisha, mudah terpesona. Padahal baru ditinggal.
            Siapa yang menyangka, nyatanya Akbar sangatlah lembut. Hari itu hari dimana kami maju kedepan dan mempresentasikan hasil diskusi kami tentang undang-undang. Akbar yang mendominasi presentasi kami. Padahal, ia tidak ikut banyak mendiskusikan materi. Jadi, Kanaya mulai terpesona. Aku berani menyimpulkan, bahwa Akbar adalah sosok yang totalitas. Sebelum presentasi, Akbar membaca materi singkat kami dan melupakan sejenak komiknya. Sudah empat kali pertemuan mata kuliah ini aku juga dapat menyipulkan, bahwa Akbar datang untuk kuliah dan pulang kerumah saat sudah selesai. Kanaya sok tahu!
“Nay, mau bareng gak?” Tegur Akbar saat aku menunggu lift.
“Ha? Enggak, Bar. Hehe...” —Kanaya Faradisha, sok jadi pemalu. Tiba-tiba, seorang Naya yang tidak punya malu menjadi Naya yang berpikir sebelum bertindak di depan Akbar. Karena, aku tidak ingin melewatkan momen kelembutan dan kemanisan Akbar. Ini fakta bahwa aku terlah terpesona olehnya.
“Serius, Nay. Rumah lo arah Cipinang, kan?”
            Akhirnya, aku duduk dibelakang si jambul manis ini. Lirik kanan, lirik kiri, rem kedepan, dan aku canggung. Kenapa aku yang biasanya pembicara aktif menjadi pasif hanya karena duduk dibelakang Akbar. Padahal, siapa dia dan dari mana asalnya pun aku belum tahu. Tapi memang, sejak awal pertemuan singkat di perpustakaan itu aku merasa dia punya karisma yang mampu memikat semua wanita. Itu memang fakta, bahwa dia adalah lelaki teknik sipil incaran kaum hawa. Luar biasa.
“Bar, boleh tanya?” Tanyaku kepada Akbar yang masih setia duduk disampingku. Bukan karena dia tetap setia untuk berada disampingku, tapi karena kami sekelompok.
“Apa, Nay?”
“Kok lo beda sih. Inget awal ketemu di perpus? Pas dilapangan?”
“Beda ya? Karena, lo songong.”
“Tapi, ya Bar. Lo tuh gak suka banget sama gue. Kok sekarang mau nebengin gue?.”
“Terpaksa.”
***
            Bagaimana mungkin seiring berjalannya waktu yang tidak bisa disalahkan aku merasa bahwa kami semakin intens tapi tidak hot shoot ataupun kabar-kabari. Berawal dari intensitas pertemuan kami yang lumayan sering dan pembicaraan yang sangat luas tanpa sadar kami terperangkap dalam suatu hubungan yang tidak jelas arah dan tujuannya.
“Kenapa gue bisa senyaman ini ya, sama lo, Nay? Padahal kan awalnya terpaksa.”
“Ssssttt... Jangan gitu ah, Bar. Makanya, jangan terpaksa. Yang perlu diingat kita kan team undang-undang. Hahaha...”
“Tapi gue serius. Lo gitu gak sih?”
            Aku terus mencari alasan untuk menghilangkan pembicaraan ini. Akbar terlalu terburu-buru. Aku tau dia serius, tapi justru aku takut. Bagaimana bisa dengan mudahnya dalam delapan belas kali tatap muka, Akbar bisa menaruh hati kepadaku? Jika boleh aku jujur, aku juga menyukainya. Tapi.... Ah! Masih berat bagiku mengakui pada diri sendiri bahwa ini yang terjadi. Pengalamanku masih menyisakan luka, tapi Akbar datang seolah membuatku berpikir hal buruk yang sama.
 “Bar!” Aku berusaha membuat dia kaget. Tapi tidak.
“Duduk sini. Mau makan apa?”
“Bar, gak makan deh gue. Minum aja.”
            Sejauh nasi dan air masuk kedalam tubuh kami, tidak ada percakapan yang membuat kami tegang. Tidak ada pembahasan mengenai hal sensitif itu. Namun, sepanjang perjalanan pulang nanti tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal baru.
“Nay, gue tuh suka sama lo, deh.” Glek! Rasanya air yang baru mengalir lancar ditubuhku tiba-tiba berhenti ditengah jalan.
“Duh, Akbar. Gak gitu, ah.”
“Kenapa sih, Nay. Tiap gue bilang begini, lo selalu aja mengalihkan pembicaraan. Lo sendiri yang bilang ‘jangan terpaksa’ ini kayaknya gara-gara gue terpaksa, deh. Jadinya tulus.”
“Tulus yang nyanyi sepatu. Bentar lagi sandal.”
“Ya, bercandaain aja terus, Nay. Padahal, gue serius.”
“Jangan serius-serius, ah Bar. Ngeri.”
“Terserah Kanaya, deh.”
            Berjalanlah kami ke arah parkiran dengan suasana yang masih kurang baik. Semenjak pebincangan tadi membuat kami benar-benar saling diam seribu bahasa. Seakan semuanya menjadi berbeda. Antara aku ingin jelas-jelas mengatakan bahwa ‘Kita tidak bisa’ dan Akbar yang ingin sesuatu lebih dari pembicaraan tadi.
“Nay, dingin gak?” Tanya Akbar sambil salip menyalip motor lainnya.
“Enggak, Bar.”
“Kalau dingin, pake jaket gue aja nih.”
“Justru lo yang mesti pake, biar lo bisa lindungin gue. Kalau gue yang pake, lo kedinginan, masa gue yang lindungin lo di jalanan begini, sih?”
“Kayaknya gue suka beneran deh sama lo.” Suara Akbar nyaris tak terdengar karena kerasnya angin.
“Apa???!!”
“Gue suka sama lo.”
“Eh! Ssttt... Jangan.”
            Dinginnya malam itu membuatku berpikir, akankah ini terjalin dalam waktu yang lama? Akankah ini terjalin hingga kami bersama mengenakan toga diwaktu yang bersamaan? Atau mungkin saja malam ini adalah yang terakhir?
“Masuk, sana Nay. Ati-ati, ya. Selamat malam. Mimpi indah. Inget yang tadi, ya.” Ku balas dengan senyum dan menunggu hingga ia tak terlihat lagi punggungnya dari ujung gang rumahku. Jujur saja, aku lebih sering mengacuhkan ungkapannya padaku karena aku masih khawatir ini terlalu cepat.
***
            Aku masih terpikir akan pembicaraan kami kemarin. Rasanya seperti ingin, tapi tidak. Jelas semuanya tentu ada alasan. Mengapa aku ingin, tapi tidak. Yang membuatku berpikir, mengapa Akbar begitu cepat mengatakan ini semua? Bukankah semua menjadi terasa terburu-buru?
            Jika kalian bertanya bagaimana perasaanku padanya, aku pun tidak tahu. Kalimat ingin, tapi tidak itulah yang menggambarkan perasaanku padanya. Sejauh mana Akbar yakin akan perasaannya yang secepat itu? Sejujurnya kemarin aku ingin menanyakan tentang hal ini, tetapi aku bukanlah pribadi yang handal untuk membicarakan hal seperti ini. Itulah sebabnya aku selalu mengelak jika Akbar memulai pembicaraan yang sejenis ini.
“Nayaaa....” Panggil Akbar dari kejauhan. Kami memang berjanji untuk bertemu dan duduk cantik di bawah pohon lapangan. Iya, lapangan dimana aku menabraknya dan membuat makalahnya basah.
“Kak Akbar. Inget gak, Bar? Hahaha...”
“Iya, Kanaya si otak dengkul memang.”
“Ya ampun, Bar. Otak dengkul tapi lo suka.” Jeng Jeng! Aku rasa, aku sudah memancingnya untuk membahas hal yang belum berakhir semalam.
“Terus, lo suka sama gue gak, Nay? Gausah dijawablah. Pasti lo juga ngira gue bohong dan bercanda.”
“Hmmm... Akbar jangan bahas itu.”
“Kan lo yang mulai, Nay. Hahaha... Yaudah, Nay. Gak apa-apa kok. Apa ini tandanya gue ditolak sebelum gue mengungkapkan keseriusan gue, ya Nay.”
“Hmmm... Gak tau, Bar.”
“Wahahahaa... Pertanyaan gue bikin lo gak mood terus ya, Nay. Yaudah lupain, biarin aja gue yang nunggu lo, Nay. Butuh apapun, gue bakal selalu ada buat lo, Nay.”
“Iya, Bar. Makasih ya, hehe...”
“Ini yang masih dibilang bohong dan bercanda?”
            Pembicaraan yang sudah tidak mengenakkan bagi kami berdua sama seperti mulainya awan yang menghitam secara perlahan. Ini pertanda, bahwa kami harus menyudahi pertemuan hari ini. Karena Akbar sudah memintaku duduk di taman hingga malam tiba. Maka, ia pun harus mengembalikanku ke rumah alias mengantarku pulang.
“Bye, Nay. Langsung mandi biar gak bau hahaha. Terus tidur, ya...”
“Ih. Makasih ya, Bar. Kalau udah sampai rumah kabarin.”
***

            Beberapa hari setelah itu, banyak sesuatu yang membuatku gelisah tentang Akbar. Jelas gelisah, bukan Akbar jika dia terlambat membalas pesanku. Sudah tak ada kabar darinya. Rasanya aneh, tak ada percakapan seintens dulu. Jangankan membalas pesan, bertemu saja sudah jarang. Aku merasa ada yang hilang. Ingin ku ulang kelas 908 dengan penuh makna.
“Hai, Nay...” Hanya ‘hai’? Tidak seperti biasanya, Akbar hanya say hi ke aku. Biasanya, dia selalu menghampiri dan mengajakku makan bersama bahkan mengantarku pulang.
“Hai, Bar. Kelas jam berapa?” Aku menggunakan jurus untuk memancingnya.
“Jam 1, nih. Duluan ya, Nay.” Loh? ‘Woy, Bar. Ini jam makan siang. Lo gak ngajak gue makan?’. Aku meneriakinya. Dalam hati


            Sudah? Itu saja? Sungguh, ini tak seperti biasanya. Jelas aku merasa ada yang hilang dalam hariku.
“Naya, apa kabar?”
“Eh, Akbar. Alhamdulillah, baik. Lo?”
“Baik juga, Nay. Duluan, ya Nay.”
            Akbar bohong. Dia bilang dia menyukaiku. Dia akan terus bersamaku. Lalu, kemana dia? Dia jahat. Tidak bisa bertanggung jawab. Sudah berulang kali ku katakan, bahwa jangan ungkapkan perasaan itu jika pada akhirnya aku merasakan hal yang sama namun dia malah pergi
***
Sejak perubahan dalam hubungan kami, aku merasa rusak. Aku merasakan sakit yang kedua kali tanpa disakiti. Aku selalu mencarinya di sudut kampus. Akbar adalah alasanku untuk pergi kekampus demi melihat dirinya. Aku rindu. Tunjukkan wajahmu, Bar agar aku tau bagaimana wajah dan keadanmu yang sudah lama tak ku lihat.
            Bohong jika aku mengharapkan ini dari enggannya aku untuk membahas perasannya padaku. Bohong jika aku merasa senang jika ini akhirnya. Bohong jika aku tidak memiliki perasaan padanya. Apa ini tanda bahwa aku telah menyia-nyiakan orang yang benar-benar menyayangiku?
            Tunggu! Atau, ini semua terjadi karena suatu sebab yang dikarenakan oleh diriku sendiri. Ya! Aku ingat dimana saat ia menyatakan perasaannya padaku dan aku hanya menjawab dengan jawaban yang dingin. Munafik jika aku berkata bahwa, aku tidak memiliki rasa apapun dengannya. Tapi, aku tetap ingin melindungi diriku dari kerasnya cinta. Aku tidak ingin justru dia yang membuatku kembali merasakan kerasnya cinta. Aku tak ingin berada dalam ikatan dengannya, namun aku tetap ingin bersamanya disaat ia membutuhkan kepastian dariku.
“Bar, jangan tinggalin gue.”
“Bar, gue juga punya rasa yang sama.”
“Bar, gue mau bicarain tentang ini lebih jauh.”
“Bar, gue punya alasan.”
“Gue sebernya punya rasa yang sama seperti lo. Tapi gue takut, takut akan jatuh cinta dan sakit hati yang kedua kalinya.”
            Terlambat.
            Kanaya Faradisha, egois. Tidak berperasaan dan jahat. Membiarkan orang terus berkorban untukmu dan selalu bersamamu, tapi kau malah membiarkannya menghilang tanpa keputusan darimu. Jahat, membiarkan Akbar menunggu sedangkan kau sibuk menyelamatkan dirimu dari kerasnya cinta. Semoga kamu bisa belajar, Nay.


Inspired by: WW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar