Jumat, 05 Mei 2023

New Mom

 Life as a new mom is not easy. 

Rasanya, semua ibu baru layak berkata dan memvalidasi kalimat tersebut. Tidak ada yang dengan siap 100% menjadi orang tua. Iya, bukan hanya "tidak ada lelaki yang siap jadi ayah". Gak ada yang siap, pak mohon maaf.

Bukannya kesiapan itu justru dibangun berdua? Saling menyadari, bahwa tidak ada yang siap dengan situasi, rutinitas, dan anggota baru. Semua berubah, TOTAL. Seharusnya, bukan hanya kehidupan ibu saja yang berubah, tapi ayah juga. Bagaimana bisa tidak merasakan perubahan? Apa artinya minim kontribusi? Ntah.


Banyak yang hilang. Iya betul, lebih tepatnya semua ibu menyadari bahwa ketika ia dikaruniai anak, maka banyak yang hilang. Saya yakin, tidak ada perempuan yang Denial akan hal tersebut. Hanya saja, mereka sadar dan memilih untuk menunda mengembalikan yang hilang (itupun, jika bisa kembali). Mempertahankan perasaan dan mental saja sudah kesulitan, bagaimana mempertahankan hal-hal yang hilang itu? 


Omong-omong soal new mom, pasti sering dong dapat pertanyaan2 yang menurut saya justru itu pertanyaan bodoh, yang seharusnya gak ditanyakan, misalnya "kamu capek ya?". Belum lagi komentar-komentar orang sekitar, tentang anak atau bahkan dirinya, misalnya 

"beratnya 3 kilo? Oh gedean anak saya, 10 kilo",

"kok bisa sih di Caesar?" kayak....... Terus? 


Belum lagi yang hidup dengan orang tua mereka yang punya pikiran dan pola asuh yang kuno, misalnya 

"dibedong, biar lurus kakinya", 

"pakein bedak, biar lucu", 

"abis melahirkan gak boleh tidur siang",

"eehh, kok gendongnya begitu? Nanti tulangnya bengkok-bengkok"


Ataauuuu, dihantui dengan tekanan-tekanan, misalnya 

"jangan dibawa keluar"

"udah didalem aja, kasian"


Kawan, percayalah setidaksiapnya orang tua, dia akan menyiapkan yang terbaik untuk anaknya. Setiaksiapnya orang tua, mereka akan cari tahu yang terbaik untuk anaknya.


Jadi, terimalah apa-apa saja yang sudah disiapkannya itu. Jangan pernah mematahkan, apalagi mengganti yang sudah disiapkan tanpa adanya kesepakatan.


Sebaik-baiknya ibu dan ayah adalah ibu dan ayah mereka sendiri. 


Salam waras dan sehat selalu,

New Mom

Kamis, 07 April 2022

Nikmat

Hampir seminggu ini, termenung aja kl di motor. Meresapi hal-hal yang terjadi selama menikah kurang dari sebulan, iya memang masih begitu dini untuk diceritakan. 

Lama mengenenal suamiku, tapi tidak begitu. Hanya satu tahun utk mempelajari sifat-sifatnya. Selama pacaran, sudah sadar bahwa love languagenya itu physical touch. Selama itu pula, aku selalu menolak. Ya karena kan belum muhrim (gaya) tp beneran. Saat menikah, love languagenya makin terlihat dan jelas aku terima dengan sangat. 

Ada beberapa momen dengan love languagenya itu yg bkin aku senang, blushing, tersentuh, ntah kenapa. Tapi yang pasti, karena aku menahan utk merespon itu sejak lama. Bahkan ada beberapa yang jadi kebiasaan dan yang mungkin kalau dia gak melakukan itu perasaanku gak enak dan ada rasa sedih pun aku mau suamiku selalu begitu.

Itu adalah sebuah proses kecil, sederhana diawal menikah. Menyadari beberapa hal yang sebelumnya gak kita rasa. Menyadari kalau rasa yang dibagi itu ternyata ada. Menyadari kalau kita itu berdua, bersama. Proses kecil ini yang mengawali proses2 besar lainnya dan aku mau nikmatin itu. 

Memutuskan untuk menikah bukan berarti melepaskan semua permasalahan hidup, justru kita menambah konflik dan masalah baru. Masalah internal bahkan eksternal. Bukan seberapa besar masalahnya, tapi bagaimana kita berdua menyelesaikan masalah itu, tentang waktu, perasaan, menghargai, sampai bertemu dengan solusi. Meskipun menikah bukan solusi untuk terhindar dari masalah, tapi bukan berarti menikah juga beban. 

Menikah itu nikmat. Menikah itu ibadah seumur hidup. Menikah memang berat, tapi semua yang menikah pun pasti prosesnya sama. Cukup dinikmati prosesnya, nikmatnya selalu terasa.

 

MEyNULIS