Rabu, 15 September 2021

Kata Jadi Petaka

 Pernah gak ada diposisi kita selalu berhati dalam berkata, tapi lawan kita tidak? 

Pernah gak tersakiti karena sebuah kata, tapi semua biasa saja? 

Pernah gak berusaha menjaga tapi karena kata, tidak dijaga? 

Bener banget. Satu hal yang perlu kita pahami "gak semua orang bisa jadi seperti apa yang kita mau". Meskipun, kita sudah menahan segala hal buruk yg kita lakukan untuk orang lain. Menagan diri untuk tetap santun, tetap beradab, tetap menjaga perasaan orang, tapi justru yang kita dapatkan sebaliknya atau mungkin justru perilaku kita salah dimata orang. 

Memang sebagian manusia tidak bisa intropeksi diri atas kesalahannya kepada orang lain. Tidak bisa dan gak akan bisa. Karena porsi dan persepsi setiap manusia berbeda. 

Think before you talk. 

Think before your words become disastrous.

(for others)


- Mey, 15 September 2021 • 21.50 WIB


Selasa, 24 Agustus 2021

Duka dan Luka

- Pesan untuk Mama -

Dear Mama...
Assalamualaikum, apa kabar ma? Gimana disana? Terang kan? Kami bisa pastikan dari sini. Ma, udah keliatan belum pintu surganya? Semoga sudah ya, Ma...
   Ma, ini hari ke 13 tanpamu. Biasanya, 13 hari kami tanpamu itu kalau kau pergi pulang kampung atau mengunjungi saudara, kalaupun rindu kami bisa mendengar suaramu. Tapi semenjak hari itu kami sadar suara itu begitu berharga ditelinga kami, keluhanmu, celotehmu kala kami tak menjadi anak baik, iya memang dulu kami kesal sekali dengar itu, tapi semenjak hari itu, kami rindu. Bahkan, segala makian kami rela untuk kembali mendengarnya, meski kami tau dirimu tidak akan pernah memaki kami, sesalah apapun kami.
   Ma, benar ternyata katamu. Semua akan terasa kalau orang itu sudah tidak ada di dunia. Benar katamu, canda gurau itu yang akan menjadi luka terberat dari sebuah kehilangan.
   Ma, kata orang kalau kita kehilangan ibu rasanya seperti separuh nyawa kita juga hilang. Benar, Ma. Mereka bukan asal bicara.
   Ma, aku pernah berpikir dan bertanya sama Tuhan, "Tuhan, siapa yang duluan kau ambil? Ambillah aku, supaya keluargaku masih bisa melanjutkan kehidupan." Tapi kemudian aku berpikir, jika aku pergi duluan, kalian semua akan bersedih tak berkesudahan. Setelahnya, Tuhan putuskan mengambil kamu duluan, Ma.
   Ma, dukaku kini nyata. Daksamu tak lagi dapat kuraih. Perih. Rindu. Kini menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
   Ma, jangan pernah lihat kami bersedih, ya. Kalau lihat, anggap saja kami sedang bersandiwara. Kalau tidak bisa, ya maaf. Kesedihan itu tidak bisa disembunyikan. Maaf membuatmu bersedih dari sana. Tapi kamu dijaga Tuhan kan? Pasti.
   Ma, awasi kami dari duniamu, ya. Ingatkan kami jika kami salah, kami keliru, ingatkan kami dengan caramu, cara yang baik ya, Ma. Ma, kami semua baik-baik saja seperti yang kamu lihat. Meski tidak disetiap waktu kami baik-baik saja. Ma, salam untuk Tuhan, ya...
Sampaikan bahwa kami ingin bersama kembali. Aamiin.

Surat ini ditulis pada hari ketigabelas sepeninggalanmu selamanya, menuju tempat indah yang kekal disana.

Salam.
Kami yang selalu rindu padamu.